Pdt. Yonky Karman, Ph.D.

Yonky webBiodata Singkat:

Dosen Biasa STT Jakarta.

Pengampu MK: Bahasa Ibrani, Pengantar, Hermeneutika, dan Teologi Perjanjian Lama, Yudaika, Teologi Biblika.

Email: yonky.karman@stftjakarta.ac.id

Profil Akademis:

Google Scholar

SINTA

Untuk biodata lengkap klik di sini.

KARYA ILMIAH:

1. “Menimbang Ulang Apokalips Kitab Daniel”

Dalam Jurnal:Jurnal Filsafat dan Teologi: DISKURSUS Vol. 13, No. 1, April 2014; ISSN: 1412-3878.Pusat Penelitian Filsafat dan Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. pp. 108-131.

Abstraksi:Pembacaan atas aspek apokaliptik Kitab Daniel sering dipusatkan pada bagian kedua kitab itu (Dan. 7-12). Bagian pertamanya (Dan. 1-6) hanya dibaca sebagai cerita-cerita heroisme iman. Dengan begitu, sifat apokaliptik tidak kelihatan sebagai karakteristik kitab itu secara keseluruhan. Apokalips sendiri cenderung dikaitkan dnegan eskatologi, dan bagian kedua kitab tersebut secara mencolok memakai kata “akhir”. Pengaitan aspek apokaliptik dengan fatalisme akhir zaman berkembang di kalangan sekte kiamat. Kendati aspek eskatologisnya, apokalips seharusnya juga dipahami dalam matriks hikmat. Jika dibaca dalam kesatuan dan keutuhannya, kitab itu memperlihatkan gagasan mengenai hidup berhikmat dalam mengantisipasi kiamat, bukan dengan menarik diri dari dunia, melainkan setia kepada Allah dan kritis terhadap arogansi kekuasaan.

Kata-kata kunci: Apokalips, apokaliptik, kiamat, radikal, Makabe, sekatrian, nubuat, hikmat, eskatologi.

Lihat Ringkasan Artikel: Jurnal Diskursus Vol. 13 No. 1 April 2014

Lihat Penilaian Reviewer: (reviewer) Jurnal Diskursus Vol. 13 No. 1 April 2014

Lihat Artikel Lengkap: (Isi) Jurnal Diskursus Vol. 13 No. 1 April 2014 – Resize

2. “Istri Idaman: Intertekstualitas ’ešet ḥayil

Dalam Jurnal:Jurnal FORUM BIBLIKA. No. 22 – 2007; ISSN: 1410-7007. Penerbit: Lembaga Alkitab Indonesia. pp. 40-50.

Abstraksi:The phrase ’ešet ḥayil occurs only three times in the Hebrew Bible and all in Ketuvim (Pro. 12:4; 31:10; Ruth 3:11). The Bible translators, however, cannot come to a conclusive rendition. The Indonesian Bible translators, for example, render the phrase in Proverbs as “a capable wife” and in Ruth “a moral woman”. In line with the meaning found in Proverbs the following paper will do an intertextual exegesis and suggest the rendition in Ruth to be corrected accordingly.

Kata-kata kunci: ’ešet ḥayil, istri, cakap, Amsal, Rut, terjemah.

Lihat Ringkasan Artikel: Jurnal Forum Biblika No. 22-2007

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Jurnal Forum Biblika No. 22-2007

Lihat Artikel Lengkap: (Isi) Jurnal Forum Biblika No. 22-2007

3. “Antropodisi dan Problematik Teodisi”

Dalam Jurnal:Jurnal Teologi dan Gereja: PENUNTUN. Vol. 11 No. 23, 2010; ISSN: 0853-2672. Komisi Pengkajian Teologi GKI SW Jawa Barat. pp. 1-13.

Abstraksi:Solidaritas dengan mereka yang menderita menjadi titik berangkat untuk memahami penderitaan dari pengalaman si penderita (manusia). Oleh karena itu, artikel ini memperlihatkan bagaimana teodisi (theodicy) tidak memadai dalam menjawab pergumulan manusia mengenai penderitaan bahkan cenderung menjadi ideologi yang mendukung status quo. Sebagai jalan keluar, antropodisi yang berbasis solidaritas dipandang penulis memberi ruang yang lebih baik dalam menelusuri penderitaan sebagai persoalan sosial, sekaligus memperkuat kesetiakawanan sosial.

Kata-kata kunci: teodisi, antropodisi, penderitaan, bencana, baik, adil, solidaritas

Lihat Ringakasan Artikel: Jurnal Penuntun Vol. 11 No. 23, 2010

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Jurnal Penuntun Vol. 11 No. 23, 2010

Lihat Artikel Lengkap: (Isi) Jurnal Penuntun Vol. 11 No. 23, 2010 – Resize

4. “Hidup Manusia Menurut Perjanjian Lama

Dalam Jurnal:Jurnal FORUM BIBLIKA.No. 27 – 2013; ISSN: 1410-7007. Lembaga Alkitab Indonesia. pp. 30-45.

Abstraksi: In the perspective of Hebrew thinking, the Old Testament sees neither intelligence nor matter as the constitutive element of human being but the breath of life. God himself is the ultimate source of life. However, man is also constituted of matter as part of his being created from the dust of the earth. Man is by nature spiritual and physical at the same time.

Kata-kata kunci: Allah, manusia, hidup, napas, tanah, mortalitas

Lihat Ringkasan Artikel: Jurnal Forum Biblika No. 27-2013

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Jurnal Forum Biblika No. 27-2013

Lihat Artikel Lengkap: (Isi) Jurnal Forum Biblika No. 27-2013 – Resize

5. “On Being a Christian University

Dalam Jurnal:Jurnal Teologi Sola Experientia. Vol. 1, No. 1, April 2013; ISSN: 2337-6813. STT Jakarta dan PERSETIA. pp. 83-96.

Abstraksi:Christian university is a part of public services. The atribute “Christian’, explicitly or implicitly, is not only an empty label but it imposes an additional burden for the university stakeholders. Science develops because of the activation of intellectual imagination and a university should provide room for it. Being academic means dealing with universal truths. A university is also a seedbed for intellectual integrity. Christian perspective, when proportionally applied, may contribute to the academic progress. The involvment of religious values do not necessarily obstruct that progress, provided that the applictaion of science is for the good and welfare of society.

Kata-kata kunci: positivism, paradigm shift, being academic and Christian, integrity, worldview.

Lihat Ringkasan Artikel: Jurnal Sola Experientia Vol. 1 No. 1 April 2013

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Jurnal Sola Experientia Vol. 1 No. 1 April 2013

Lihat Artikel Lengkap: (Isi) Jurnal Sola Experientia Vol. 1 No. 1 April 2013 – Resize

6. “Perspektif Perjanjian Lama Tentang Kerja

Dalam Jurnal: Jurnal Transformasi. Vol. 9, No. 1, Juni 2013; ISSN: 1907-1426. Sekolah Tinggi Teologi INTI Bandung. pp. 1-18.
Abstraksi:Manusia tidak terhukum untuk bekerja. Kerja bukan akibat dosa, sebab hal itu sudah dilakukan sebelum kejatuhannya ke dalam dosa. Kerja pertama-tama untuk menyambung hidup dan kemudian untuk mengisi hidup. Tidak hanya mengerjakan ibadah, tetapi juga mengibadahkan kerja.

Kata-kata kunci: makhluk tanah, rajin, uang, kaya, mengibadahkan kerja, etika Protestan, kapitalisme.

Lihat Artikel: Jurnal Transformasi Vol. 9 No. 1, Juni 2013

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Jurnal Transformasi Vol. 9 No. 1, Juni 2013

Lihat Artikel Lengkap: (Isi) Jurnal Transformasi Vol. 9 No. 1, Juni 2013 – Resize

7. Buku: Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama

Buku:ISBN: 979-687-231-5. Penerbit: BPK Gunung Mulia. 2004.

Abstraksi:Teologi Perjanjian Lama berangkat dari tema-tema yang memang muncul dari dalam Perjanjian Lama sendiri. Buku ini mencari relevansi antara tema-tema teologis itu dengan masalah-masalah sosial di Indonesia.

Kata-kata kunci: kanon, penciptaan, gender, tanah, anugerah, keselamatan, perang, penderitaan, doa.

Lihat Artikel: Buku – Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, 2004

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Buku – Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama – 2004

Lihat Artikel Lengkap: (Isi) Buku – Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama – 2004 – Resize

8. Buku: Tafsiran Alkitab Kitab Rut

Buku: ISBN: 978-979-687-631-0. BPK Gunung Mulia. 2009.

Abstraksi:Buku tafsir ini mendasarkan diri pada revisi teks Alkitab Terjemahan Baru (Lembaga Alkitab Indonesia). Sebagai sebuah contoh cerita pendek, analisis kebahasaan dan teologis untuk Kitab Rut juga dilengkapti dengan tafsir naratif.

Kata-kata kunci: revisi, naratif, keturunan, tanah, warisan, Naomi, Rut, Boas.

Lihat Cover: Buku – Tafsiran Alkitab – Kitab Rut, 2009

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Buku – Tafsiran Alkitab – Kitab Rut – 2009

Lihat Artikel Lengkap: (Isi) Buku – Tafsiran Alkitab – Kitab Rut – 2009 – Resize

9. “Gereja Bagi Sesama

Artikel dalam Buku: Merentang Sejarah, Memaknai Kemandirian.BPK Gunung Mulia dan Sinode GKP. 2009. ISBN: 978-979-687-708-9. pp. 1-14.

Abstraksi:Karena judul yang diberikan Lembaga Alkitab Indonesia “Orang Samaria yang Murah Hati,” fokus pembaca tertuju kepada keteladanan orang Samaria dalam perumpamaan itu. Padahal, perumpamaan itu dituturkan karena pertanyaan dari ahli Taurat “Siapakah sesamaku manusia?” Yesus mengoreksi pertanyaan keliru itu dengan pertanyaan yang lebih baik “Siapakah … sesama manusia dari orang yang jatuh ketangan penyamun itu?”

Kata-kata kunci: pertanyaan, sesama, Taurat, Samaria, Yerusalem

Lihat Artikel: Gereja Bagi Sesama – Buku Merentang Sejarah Memaknai Kemandirian, 2009

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Buku – Merentang Sejarah, Memaknai Kemandirian – Gereja Bagi Sesama – 2009

Lihat Artikel Lengkap: (Isi) Buku – Merentang Sejarah Memaknai Kemandirian – Gereja Bagi Sesama – 2009 – Resize

10. Kepemimpinan Sentrifugal Musa

Artikel dalam Buku: Pemimpin yang Membentuk Zaman.Departemen Literatur dan Media Arastamar. 2009. ISBN: 978-979-99510-6-9. pp. 7-11.

Abstraksi:Karena kecewa dengan bangsa Israel menyembah berhala, Allah hendak memusnahkannya dan membentuk sebuah umat baru yang lain dengan Musa sebagai bapak bangsa. Daripada menerima tawaran itu, Musa menjadi mediator antara Allah dan Israel. Ia memohon Allah tidak memusnahkan Israel dan menyediakan dirinya sebagai ganti hukuman itu.

Kata-kata kunci: Musa, kepemimpinan, sentrifugal, patung, aposiopese

Lihat Artikel: Kepemimpinan Sentrifugal Musa – Buku Pemimpin yang Membentuk Zaman, Mei 2009

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Buku – Pemimpin yang Membentuk Zaman – Kepemimpinan Sentrifugal Musa – 2009

Lihat Artikel Lengkap: (Isi) Buku – Pemimpin yang Membentuk Zaman – Kepemimpinan Sentrifugal Musa – 2009 – Resize

11. Buku: Runtuhnya Kepedulian Kita: Fenomena Bangsa yang Terjebak dalam Formalisme Agama

Buku: ISBN: 978-979-709-500-0. Kompas, April 2010.

Abstraksi:Buku ini merupakan kumpulan artikel opini bertema keagamaan pada Harian Kompas. Kesalehan sosial roboh ketika formalisme agama dikedepankan. Agama pun kehilangan kekuatannya untuk kemaslahatan sesama dan bangsa. Untuk itu, agama di ruang publik harus meninggalkan partikularitas dan eksklusivitasnya.

Kata-kata kunci: kesalehan, sosial, kehidupan, inklusif, eksklusif, moralitas, publik, keindonesiaan, Pancasila

Lihat Cover: Buku – Runtuhnya Kepedulian Kita – Juni 2010

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Buku – Runtuhnya Kepedulian Kita – Juni 2010

Lihat Artikel Lengkap: (Isi) Buku – Runtuhnya Kepedulian Kita – Juni 2010 – Resize(2)

12. Buku: Republik Galau Merajut Asa

Buku: ISBN: 978-602-7688-43-8. Libri, PT BPK Gunung Mulia. 2014.

Abstraksi:Buku ini merupakan kumpulan artikel opini bertema sosial pada Harian Kompas dalam kurun 2009-2014. Inilah potret kegalauan penyelenggara negara untuk memaksimalkan politik kesejahteraan rakyat. Problem utama adalah kepemimpinan nasional, korupsi birokrasi, lemahnya penegakan hukum, dan mentalitas bangsa.

Kata-kata kunci: negara, bangsa, pemimpin, konstitusi, nasionalisme, keindonesiaan, demokrasi, korupsi, pendidikan

Lihat Cover: Buku- Republik Galau Merajut Asa, 2014

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Buku – Republik Galau Merajut Asa – 2014

Lihat Artikel Lengkap: (Isi) Buku- Republik Galau Merajut Asa – 2014 – Resize

13. “Beberapa Pendekatan Asal Usul Apokaliptisme

Artikel dalam Buku: Apokaliptik (Kumpulan Makalah Simposium Ikatan Sarjana Biblika Indonesia 2006). Lembaga Alkitab Indonesia. 2007. ISBN: 978-979-463-942-9. pp. 7-19.

Abstraksi:Tulisan ini berusaha meluruskan definisi apokaliptik, yang sering dipakai dalam arti apokalips (genre), apokaliptisisme, dan apokaliptis (adjektiva). Definisi apokaliptik sering dikaitkan dengan tradisi kenabian dan dari situ apokaliptik sering dipakai untuk gerakan yang hendak menghancurkan tatanan yang ada. Padahal, Alkitab juga mengasalkan tradisi hikmat sebagai rahim apokaliptik, sebuah tradisi yang memelihara tatanan yang ada.

Kata-kata kunci: apokaliptik, apokalips, apokaliptisisme, kiamat, akhirat, hikmat, kenabian, Wahyu, Daniel

Lihat Artikel: Beberapa Pendekatan Asal Usul Apokaliptisme Perjanjian Lama – Kumpulan Karangan Simposium ISBI 2006

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Buku – Kumpulan Karangan Simposium ISBI – Beberapa Pendekatan Asal Usul Apokaliptisme Perjanjian Lama – 2006

Lihat Artikel Lengkap: Buku – Kumpulan Karangan Simposium ISBI – Beberapa Pendekatan Asal Usul Apokaliptisme Perjanjian Lama – 2006 – Resize

14. Hikmat yang Membuat Hidup Utuh

Dalam Buku: The Integrated Life. ANDI, Yogyakarta, 2006. ISBN: 979-763-458-2. pp. 29-47.

Abstraksi:Dalam diskursus teologi Perjanjian Lama, tema hikmat termarjinalisasi oleh tema keselamatan. Bangkitnya minat baru untuk teologi penciptaan akhir-akhir ini membuat posisi hikmat diperhitungkan sebab hikmat berakar pada struktur ciptaan.

Kata-kata kunci: dunia ciptaan, tatanan, universal, kesalehan, keselamatan, hikmat, takut

Lihat Artikel: Hikmat Membuat Hidup Utuh – Buku The Integrated Life, 2006

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Buku – The integrated Life – Hikmat Membuat Hidup Utuh – 2006

Lihat Artikel Lengkap: (Isi) Buku – The Integrated Life – Hikmat Membuat Hidup Utuh – 2006 – Resize

 15. Sebuah Catatan dari Revisi Kitab Rut dan Samuel

Artikel dalam Buku: Firman Allah untuk Semua (Kumpulan Makalah dan Hasil Konsultasi Regional Lembaga Alkitab Indonesia 2011). Lembaga Alkitab Indonesia, 2012. ISBN: 978-979-463-158-4. pp. 353-358.

Abstraksi:Terjemah Perjanjian Lama yang baik tidak hanya sesuai dengan Teks Masora (Ibrani), sebab di tempat-tempat tertentu Teks Septuaginta (Yunani) justru lebih jelas dan baik. Sebuah terjemah Alkitab dimaksudkan untuk memudahkan pembaca memahaminya.

Kata-kata kunci: Rut, Boas, kebetulan, Samuel, benjol, tikus, roh

Lihat Artikel: Buku – Firman Allah untuk Semua – Catatan Revisi Kitab Rut dan Samuel – 2012 – Resize

Lihat Penilaian Reviewer: (Review) Buku – Firman Allah untuk Semua – Catatan Revisi Kitab Rut dan Samuel – 2012

Lihat Artikel Lengkap: Buku – Firman Allah untuk Semua – Catatan Revisi Kitab Rut dan Samuel – 2012 – Resize

16. Kata dan Karya: Refleksi tentang Tuhan-Manusia, Gereja, dan Masyarakat

Buku: ISBN: 978-602-0904-39-9. Jakarta: Literatur Perkantas, 2017. 252 halaman.

Abstraksi: kumpulan tulisan pendek tentang tokoh-tokoh di Alkitab secara individual berurusan dengan Tuhan (terutama Perjanjian Lama), tentang laku terukur sebagai umat dan sebagai anggota masyarakat, guna pada akhirnya mengupayakan kesejahteraan negeri.

Kata-kata Kunci: gereja, manusia, masyarakat, bangsa, negara, kesejahteraan, Tuhan, Alkitab

Lihat Buku: Buku – Kata dan Karya – 2017_compressed

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review – Buku Kata dan Karya

17. Allahmu Allahku”: Kajian Deskriptif – Analitis atas Pengakuan Rut dan Implikasinya Bagi Dialog Antarumat Beragama di Indonesia

Dalam Buku: Berakar dan Bertumbuh di dalam Dia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017. ISBN: 978-602-231-441-7. 18 halaman (hal. 25-42)

Abstraksi: Naomi sebagai orang asing di tanah Moab dan Rut juga sebagai orang asing di tanah Yehuda, dengan keasingan masing-masing yang berbeda arah. Keasingan Rut berterima di dalam keumatan inklusif, sebuah arus lemah tetapi visioner fenomena beragama di dalam Perjanjian Lama.

Kata-kata Kunci: Rut, Naomi, orang asing, pulang, komitmen, keumatan inklusif

Lihat Artikel: Buku – Berakar dan Bertumbuh di Dalam Dia – 2017

Lihat Penilaian Reviewer: Yonky Karman – Peer Review – Buku Berakar dan Bertumbuh di Dalam Dia

18. “Roh-roh dalam Perjanjian Lama

Dalam Jurnal: Jurnal Amanat AgungVol 11, No.1 – 2017; ISSN: 2579-8839. Penerbit: STT Amanat Agung. pp. 1-38.

Abstraksi: Sebagai bagian dari dunia Timur yang tradisional, Perjanjian Lama kaya dengan referensi dunia roh. Meski sering diterjemahkan “roh”(ruh), kata Ibrani ruaḥ tidak lantas merujuk suatu entitas personal yang berdiri sendiri. Dalam konteks Perjanjian Lama, terlalu dini pada tahap itu untuk mengasosiasikan ruaḥ Allah dengan Roh Kudus (person ketiga dalam Allah Trinitas). Dalam konstruksi genitif posesif, ruaḥ Allah (dan sejenisnya) merujuk Allah yang sedang bertindak baik langsung ataupun dalam rangka memampukan seseorang merampungkan tugas khususnya. Pemakaian ruaḥ nonpersonal itu juga terlihat dalam konstruksi genitif efek untuk sosok bukan Allah, yang menggambarkan sebuah efek (nomina abstrak) oleh sesuatu yang nonfisik (ruaḥ) di dalam diri sosok itu. Dalam kaitan dengan Allah sebagai sumbernya, ruaḥ manusia merupakan representasi ketergantungan hidup manusia pada dan relasi dinamisnya dengan Allah.

Kata-kata kunci: roh, ruah, (non) fisik, entitas personal, makhluk halus, roh jahat, genitif posesif, genitif efek.

Lihat Artikel Lengkap: Yonky Karman – Roh-roh dalam Perjanjian Lama

19. “Hal Kebetulan dalam Rut 2:3

Dalam Jurnal: Jurnal VERITASVol 2, No.1 – 2001; ISSN: 1411-7649. Penerbit: Seminari Alkitab Asia Tenggara. pp. 141-146.

Abstraksi: Salah satu terjemahan yang perlu direvisi menurut Cornelius Kuswanto adalah kata “kebetulan” yang terdapat di Rut 2:3, Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (TB, BIS; TL “untung”).1 Menurut Kuswanto, “Rut datang ke ladang Boas kelihatannya seperti sebuah kebetulan, namun sebenarnya langkah Rut dipimpin oleh pengaturan Tuhan” (h. 137). Ia mengusulkan agar terjemahan “kebetulan” pada ayat tersebut diubah menjadi “Dan terjadilah adanya (ternyata) ia berada di tanah milik Boas” (h. 138). Untuk mendukung usulannya, Kuswanto menggunakan Rut 4:1 sebagai contoh, disertai analisis sintaktikal, yang sayangnya, tidak dilakukan untuk Rut 2:3 yang justru menjadi subjudul artikelnya, “Rut Sampai di Ladang Boas: Kebetulan atau Pengaturan Tuhan?” Oleh karena itu, paparan berikut akan mengisi kekurangan analisis leksikal, semantik, dan sedikit sintaktikal dari Rut 2:3. Sebagai catatan, penulis tidak keberatan dengan usulan Kuswanto bahwa terjemahan “kebetulan” pada Rut 4:1 seharusnya tidak ada.

Lihat Artikel Lengkap: Yonky Karman – Hal Kebetulan dalam Rut 2

20. “Problem Terjemahan Nama Tuhan di dalam Alkitab

Dalam Jurnal: Jurnal VERITASVol 7, No.1 – April 2006; ISSN: 1411-7649. Penerbit: Seminari Alkitab Asia Tenggara. pp. 1-14.

Abstraksi: Kontroversi tentang nama Allāh dalam Alkitab mulai di Malaysia pada awal tahun 1980-an. Umat Islam di sana keberatan dengan umat Kristen yang memakai dan menyebut Allāh. Mereka menganggap sebutan itu sebagai sebuah sebutan Tuhan yang eksklusif Islam. Mereka tidak mengerti ketika orang Kristen menyebut “Allahku,” “Allah kita.” Mereka juga menuduh nama Allah telah dipakai untuk menunjuk Tuhan yang lain, misalnya, dalam ungkapan “Allah Anak” dan “Allah Roh Kudus.” Dalam pandangan mereka, ungkapan seperti itu melecehkan Tuhan dalam Islam, sebab Isa atau Roh Allah lebih rendah dari Allāh. Maka, umat Islam di Malaysia pernah melakukan kampanye pelarangan bagi umat Kristen untuk memakai dan menyebut nama Allāh. … Berangkat dari keprihatinan itu, artikel berikut akan meninjau pemakaian nama dan sebutan untuk Tuhan dalam PL. Dalam hal ini tak dapat dihindari sedikit pembahasan tentang pemakaian kata Allāh dalam Islam, dengan kesadaran penuh bahwa penulis memiliki pengetahuan yang amat terbatas tentang hal itu. Namun, pembahasan itu perlu juga dibaca orang Kristen yang masih memiliki pemahaman yang amat kurang tentang pemakaian kata Allāh dalam Islam.

Lihat Artikel Lengkap: Yongki Karman – Problem Terjemahan Nama Tuhan dalam Alkitab

21. “Kasih Persaudaraan Sebangsa dan Setanah Air”

Dalam Buku: Aku adalah yang awal dan yang akhir. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019. ISBN: 978-602-231-565-0. Halaman 1-10.

Abstraksi: Dalam tulisan ini mencoba menjelaskan bagaimana kita memahami 1 Petrus 1: 1-11 dalam konteks Hidup sebagai orang merdeka sekaligus hamba sebenarnya paradoks, tetapi kedua istilah itu justru digunakan Petrus sekaligus untuk identitas Kristen. Orang merdeka sekaligus hamba Allah. Menjadi hamba Allah bukan dalam arti menjadi Pendeta, melainkan menghamba untuk kebaikan, tidak menyalahgunakan kebebasan untuk berbuat jahat. Untuk menjadi gereja yang kontekstual dan tidak dilihat sebagai sesuatu yang asing di mata umat beragama yang berbeda, perlu dipertimbangkan suatu proyek teologi kebangsaan yang memberi landasan bagi kasih persaudaraan sebangsa dan setanah air.

Kata-kata Kunci: Bertumbuh, merdeka, bangsa, tanah air, Petrus, gereja

Lihat Artikel: Bab Buku Aku adalah yang awal dan yang akhir-Yonky Karman

22. “Abraham Inklusif: Sebuah Titik Temu Trialog Agama-agama Abrahamik

(The Inclusive Abraham: A Meetimng Point of the Abrahamic-Religious Trialogue)

Dalam Jurnal: Jurnal Jaffray. Vol 17, No.2, Okt 2017; ISSN: 1829-9474. Penerbit: STT Jaffray. pp. 185-202.

Abstraksi: Meski Abraham bapak leluhur agama Yahudi, Kristen, dan Islam, titik-titik temu trialog ketiga agama monoteistis itu dalam praktiknya kurang dielaborasi. Menariknya, definisi agama-agama abrahamik dalam kamus Indonesia sama sekali tidak mencantumkan nama Abraham. Artikel ini memberikan substansi untuk definisi itu dengan fokus pada sosok itu sendiri yang dikenang dalam tiga agama itu karena keberaniannya untuk mengurbankan sesuatu yang sangat berharga. Abraham yang berkurban bisa menjadi sebuah titik temu inklusif yang mendorong penganut agama masing-masing menjalani kehidupan berkurban untuk kebaikan bersama.

Kata-kata kunci: Abraham, Trialog, Inklusif, Tradisi-tradisi Keagamaan, Kitab Suci.

Lihat Artikel Lengkap: Artikel Jurnal JAFFRAY Oktober 2019 – Abraham Inklusif

Pdt. Agustinus Setiawidi, MA. Th.D.

asetiawidiBiodata Singkat:

Wakil Ketua 1: Bidang Akademik.

Pengampu MK: Studi-studi Perjanjian Lama, Hermeneutika, Teologi Biblika, Bahasa Ibrani Alkitab, Yudaisme

Email: agustinus.setiawidi@stftjakarta.ac.id

Profil Akademis:

Google Scholar

SINTA

Untuk biodata lengkap klik di sini.

KARYA ILMIAH

1. “Menggali Ulang Asal Usul Israel Perdana”

Dalam Jurnal: Jurnal Forum Biblika No. 13 – 2001. ISSN: 1410-7007. Lembaga Alkitab Indonesia. pp. 50-68.

Abstraksi: Artikel ini adalah sebuah bedah buku karya Robert Coote, Early Israel: A New Horizon (1990). Pertanyaan inti yang selama ini harus dijawab oleh para pakar terkait asal-usul Israel perdana adalah: apakah Alkitab, dalam hal ini Perjanjian Lama memberikan laporan historis tentang asal-usul nenek moyang Israel yang digambarkan sebagai para imigran dari Mesopotamia. Penggalian dan penemuan arkeologis selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa asal-usul nenek moyang Israel lebih dapat dimengerti sebagai sebuah proses kehidupan sosial, ekonomi, dan politik Palestina, terutama ketika Mesir mulai lemah. Orang-orang Israel yang kelak menghasilkan Perjanjian Lama adalah penduduk asli Kanaan yang mendapat kesempatan untuk memperluas permukiman di dataran tinggi yang tidak lagi mendapat kontrol ketat dari Mesir. Dari tugu Merne-Ptah, sebuah prasasti yang berasal dari abad ke-13sM, diperoleh informasi bahwa Israel adalah organisasi tribal, yang dirujuk sebagai shasu, yang berfungsi sebagai penyangga Mesir selama kurun waktu kejayaan para firaun. Israel secara bertahap dapat menguasai kehidupan sosial, ekonomi, dan politis karena jatuhnya Mesir dan mundurnya Het dalam kompetisi kekuasaan di Palestina.

Kata-kata kunci: Model-model asal usul Israel perdana, Israel perdana, perluasan permukiman, Mesir, Merne-Ptah, shasu, organisasi tribal

Lihat Artikel: Jurnal Forum Biblika No. 13 – 2001

2. “Metode Kritik Historis: Meninjau-Ulang Perannya bagi Penafsiran Alkitab”

Dalam Jurnal: Jurnal Teologi dan Gereja: Penuntun. Vol. 5. No. 20 – 2004; ISSN: 0853-2672. KPT GKI SW Jawa Barat. pp. 357-363.

Abstraksi: Dalam sejarah penafsiran Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Pendekatan Kritik-Historis pernah menjadi sebuah pendekatan yang paling banyak dipakai, terutama setelah Pencerahan. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah mencari makna asli dari teks yang dibaca dan ditafsirkan. Seiring perkembangan studi penafsiran Alkitab, berbagai pendekatan baru muncul sebagai reaksi atas pendekatan Kritik-Historis yang dianggap tidak lagi mampu untuk menjawab berbagai macam pertanyaan terkait dengan bagaimana pembaca bisa memperoleh pemahaman atas teks yang dibaca. Pendekatan Kritik Historis itu sendiri akhirnya semakin ditinggalkan dan tidak menjadi pendekatan favorit dalam membaca dan menafsir Alkitab. Artikel ini mengingatkan pembaca bahwa pendekatan Kritik Historis tetap dapat dipakai untuk menghasilkan tafsiran yang konstruktif.

Kata-kata Kunci: Metode Kritik Historis, Alkitab, makna asli, pesan teologis.

Lihat Artikel: Jurnal Penuntun Vol. 5 No. 20, 2004

3. “Mengucap Syukur di Dalam Perut Ikan? Membaca Doa Ucapan Syukur Yunus dari Perspektif Satiris”

Dalam Jurnal: Jurnal Forum Biblika No. 18 – 2005. ISSN: 1410-7007. Lembaga Alkitab Indonesia. pp. 12-23.

Abstraksi: Artikel ini menawarkan sebuah alternatif penafsiran atas Yunus 2:3-11. Selama ini Mazmur yang diucapkan oleh Yunus di dalam perut seekor ikan yang besar ini diyakini sebagai bagian yang ditambahkan oleh redaksi. Daripada mengucap syukur seharusnya Yunus mengucapkan sebuah ratapan karena hidupnya terancam. Karena itulah, ucapan syukur Yunus dianggap tidak cocok dengan konteks literer. Namun demikian, jika Kitab Yunus dilihat sebagai sebuah karya satiris, maka sejumlah alasan mendasar yang selama ini dipakai oleh para penafsir untuk memisahkan mazmur Yunus dari narasi yang utuh akan dapat dijelaskan. Hubungan literer antara mazmur tersebut dengan bagian sebelum dan sesudahnya dapat dipahami secara ironis-satiris. Sebagai konsekuensi, mazmur tersebut justru akan lebih mudah dipahami mengingat karakteristik dan tujuan dari sebuah karya satiris itu sendiri. Keganjilan Mazmur Yunus dalam keseluruhan narasi adalah elemen satiris yang paling radikal.

Kata-kata Kunci: Mazmur Yunus, konteks literer, perspektif satiris, elemen satiris

Lihat Artikel: Jurnal Forum Biblika No. 18 – 2005

4. “Arkeologi dan Penafsiran Alkitab “Jangan Membuat Bagimu Patung” – Anikonisme Israel Kuno”

Dalam Jurnal: Jurnal Teologi PROKLAMASI, Edisi No. 7/Th. 4/Juni 2006. ISSN: 1412-9701. Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. pp. 115-129.

Abstraksi: Isu “larangan membuat patung di Israel kuno” terkenal melalui referensi kitab Keluaran 20:4: “jangan membuat bagimu patung (Ibr. pesel, patung pahatan dan t:mUnah, representasi), yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.” Pendapat umum meyakini bahwa larangan untuk membuat patung yang berlaku di Israel bersifat unik, dan tidak berasal dari dunia di sekitarnya. Tulisan ini berusaha untuk menjelaskan latar belakang larangan ini dengan membuat perbandingan atas isu serupa di sejumlah budaya di Timur Dekat Kuno. Pertanyaan yang ingin dijawab dalam hal ini, adalah: Sejauh mana anikonisme Israel kuno bersifat unik? Dari manakah praktik semacam ini berasal?

Kata-kata Kunci: Anikonisme, anikonis, patung, tradisi de facto, tradisi programatis

Lihat Artikel: Jurnal Proklamasi No. 7 Tahun 4 – Juni 2006

5. “Menafsirkan Kejadian 3:1-24 dalam Konteks J: Kritisisme Historis dan Eksegese Teologis”

Artikel dalam Buku: Berakar di Dalam Dia dan Dibangun di Atas Dia. PT. BPK Gunung Mulia, Tahun 1998. ISBN: 979-415-534-9. pp. 27-40.

Abstraksi: Tulisan ini adalah sebuah usaha untuk menyajikan tafsiran alternatif atas teks Kejadian 3:1-24 yang biasa dikenal sebagai cerita tentang ‘Kejatuhan Manusia ke dalam Dosa.’ Dengan memanfaatkan metode Kritik Historis dan teori tentang asal usul Israel perdana yang ditawarkan oleh Robert B. Coote, teks di atas dapat ditafsirkan sebagai teks yang menawarkan teologi kesetaraan. Teologi kesetaraan ini memiliki relevansi di tengah-tengah masyarakat yang cenderung masih memegang teguh hirarki atau status sosial, ekonomi, dan politik. Kejadian 3:1-24 dapat ditafsirkan sebagai semangat untuk saling bahu membahu dalam membangun kehidupan bersama.

Kata-kata Kunci: penafsiran Alkitab, metode, Israel perdana, asal mula Israel, Palestina, Daud, sumber J, taman Eden.

Lihat Artikel: Menafsirkan Kejadian 3 dalam Konteks J – Buku Berakar di dalam Dia dan Dibangun di atas Dia, 2002

6. “The Satirical Message of Jonah”

Kumpulan Makalah:Collected communications to the XVIIIth Congress of the International Organization for the study of the Old Testament – Leiden 2004. ISSN: 0722-0790, ISBN: 3-631-55049-9. pp. 147-150.

Abstraksi: The main purpose of this short paper is to re-examine the literary genre of satire as applied to the book of Jonah. In 1971 John C. Holbert commenced to explain satire chiefly based on two works of N. Frye, Anatomy of Criticism (1967), and L. Feinberg, Introduction to Satire (1967). Correspondingly David Marcus (1995) has meticulously examined and clarified satire, before applied it to four satire in the Hebrew Bible, which included the book of Jonah. Both Holbert and Marcus agreed that the only target of satiric attack of the book is Jonah himself. Futhermore, Marcus believed that originally the book did not advocate any theological message or point of view. Despite their elaborative efforts to clarify the genre satire, it is quite obvious that both Holbert and Marcus have limitedly focused their object of attack, individually or institutionally, my short paper argues that the essence of satire is the truth or belief the satirist wants to convey in some satiric or critical way, and not the object of attack itself. If we classify the book of Jonah as satire, it is to be assumed that the book has its message.

Kata-kata kunci: Satiric, Satire, Jonah

Lihat Artikel: Satirical Message of Jonah – Buku Collected Communications to the XVIIIth Congress, Leiden 2004

7.Taking Its Shape: Towards an Indonesian Old Testament Theology

Buku. ISBN: 978-94-90393-14-4. The Nethertlands.

Abstraksi:

Although the consciousness of developing contextual theology in Indonesia might have already been present a generation earlier than in that of other Asian and African lands in the 1970’s, it has been generally observed that biblical scholarship in this country is not as contextual and developed as other forms of theology are. This is highlighted in the most recent and extensive evaluation, from the historical perspective, in A History of Christianity in Indonesia (2008).

Currently, in many parts of the world, different forms of contextual biblical scholarship are being developed. The scholars involved will usually label themselves as postcolonial biblical scholars, distinguishing themselves from western biblical scholars, whom they consider unjustly dominant and allegedly non-contextual in their scholarship, for too long. The question arises, then, as to why postcolonial biblical scholarship has not yet made headway in the Indonesian educational context. This present research attempts to give a picture of Indonesian contextual Old Testament theology and, in part, to respond to that question by presenting a dialogue between Christoph Barth’s OT theology, the most complete textbook which Indonesian theologians and students have at their disposal in their own language, and works by Indonesian OT scholars.

The research proposes that in the first place the social, political and cultural plurality of Indonesia generates complexity in defining its context. There are at least two contexts that must be taken into account in the works by Indonesian OT scholars, namely, national context and local context.

Second, the dialogue reveals that to a large extent Barth’s OT theology still holds strong influence on the works by Indonesian OT scholars. Nevertheless we discover some exceptions in several works, challenging the theological view of Creation Barth has offered to the Indonesian context.

As regards methodology applied in the works by Indonesian scholars, the dialogue discloses that by and large they do not exercise varying approaches outside of the translation model, searching for simple appropriation and correspondence between the Bible and the their respective contexts. Again, we find an exception in a work by a theologian from Timor.

We discover the most critical reaction to Barth’s OT theology in the works by Indonesian scholars exploring local wisdom, a topic which is deliberately avoided by Barth because of its supposed mundane quality.

This present research proposes that Indonesian Old Testament scholars exercise various approaches in doing biblical theology rather than simply applying the biblical context to local context, which is always a questionable method.

Exploring local wisdom and ancestor veneration, which have been judged as pagan or at least inferior to biblical wisdom and as against Christians faith, for generations, might be the most challenging topics to study in regards to contextualization, judging from the fact that to a large extent the Indonesian Christians still observe it. Above all, OT theology in Indonesia should take seriously Islam, as one of its contexts, into account.

Kata-kata Kunci: Christoph Barth, OT theology, Indonesian IT scholars, Indonesian OT theology, contextualization, local wisdom, ancestor veneration

Lihat Cover: Buku – Taking Its Shape – 2011

8. “Siapakah yang Akan Menjembatani Jurang Itu?”

Buku: Penerbit: UPI STT Jakarta, 2014. ISBN: 978 – 602 – 71379 – 1 – 2.

Abstraksi:

Orasi ilmiah ini menekankan pentingnya dialog antara kaum akademisi/profesional – mereka yang belajar teologi secara formal – dengan jemaat pada umumnya. Telah diamati secara umum, bahwa ada jurang antara penafsiran dan teologi yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Salah satu cara untuk menjembatani jurang itu adalah dengan melihat bahwa Allah di dalam Alkitab adalah Allah yang tak pernah dapat diduga, tetapi sekaligus dialogis, bahwa Alkitab sendiri menyuarakan beragam tafsir dan pemahaman, dan bahwa, oleh karena itu, gereja seharusnya selalu resah untuk memikirkan relasinya dengan Allah dan dunia di mana ia ditempatkan.

Kata-kata kunci: Allah yang tak terduga, multivokal, dialogi, penafsiran, teologi, ziarah,

Lihat Cover: Buku – Siapakah yang Akan Menjembatani Jurang Itu, 2014

9. “Towards an Indonesian Old Testament Theology: A Dialogue between Christoph Barth’s Old Testament Theology and Works by Indonesian Old Testament Scholars”

Dalam Buku: Teks dan Konteks yang Tiada Bertepi. Penerbit Pustaka Muria. 2012. pp. 155-168.

Abstraksi: This article offers a picture of Old Testament theology done by Indonesian scholars for the last forty years. The methodology used is comparing Christoph Barth’s Theologia Perjanjian Lama to the works by Indonesia Old Testament scholars. The result reveals that although to a large extent the works by the latter still depend on Barth’s theology, we discover some critical works particularly those related to creation and local wisdom.

Kata-kata kunci: Christoph Barth, Old Testament Theology, Creation, Local Wisdom

Lihat Artikel: Towards an Indonesian Old Testament Theology – Buku Teks dan Konteks yang Tiada Bertepi – 2012

10.”Kutahu yang Kupercaya: Sebuah Penjelasan Mengenai Iman Kristen”

Buku Terjemahan. Judul asli: Kijk op Geloof: Christelijk Geloof Uitgelegd. Pengarang: Henri Veldhuis. Penerbit: PT BPK Gunung Mulia, 2010. ISBN: 978-979-687-777-5

Abstraksi: Buku ini merupakan sebuah usaha untuk menguraikan pokok-pokok utama dari iman Kristen secara sederhana, tetapi tetap mendalam. Dengan kata lain, ini adalah sebuah buku dogmatika untuk jemaat yang tidak secara khusus belajar teologi. Lebih dari itu, penulis dengan sadar, berani, dan bertanggung jawab membahas sejumlah topik masa kini yang tidak akan kita temukan dalam buku-buku dogmatika klasik. Karena itu, meskipun buku ini ditulis oleh dan untuk konteks Belanda, gereja-gereja di Indonesia tetap dapat memetik manfaat diskusi-diskusi kontemporer yang juga dihadapi oleh gereja-gereja di seluruh dunia pada umumnya.

Kata-kata kunci: iman Kristen, Kristus, kasih, relasi, kebebasan, percaya

Lihat Buku: Kutahu yang Kupercaya – 2010

11. “Asal Usul Kekristenan dan Antropologi Budaya”

Buku Terjemahan. Judul asli: Christian Origins and Cultural Anthropology: Practical Models for Biblical. Pengarang: Bruce J. Malina. Penerbit: PT BPK Gunung Mulia, 2011. ISBN: 978-979-687-859-8

Abstraksi: Buku ini memberi informasi mendasar bagi penafsiran Alkitab melalui pendekatan analisis budaya. Dengan memanfaatkan teori Mary Douglas, Malina menafsirkan model “Kelompok/Kisi-kisi” analisis budaya, dan menerapkannya pada studi dan penafsiran Alkitab. Malina juga menawarkan sebuah metodologi baru untuk penafsiran Alkitab secara ilmiah, dengan mempertimbangkan perbedaan-perbedaan budaya, dan metode tafsir yang cocok untuk masing-masing budaya tersebut. Sejumlah grafik, model, dan ilustrasi dipakai oleh Malina untuk menjadi perangkat studi bagi para pakar Alkitab untuk menghasilkan penafsiran Alkitab.

Kata-kata kunci: Mary Douglas, Kelompok/Kisi-kisi, Media Simbolis Menyebar/Meluas

Lihat Buku: Asal Usul Kekristenan dan Antropologi Budaya – 2011

12. “Penuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama”

Buku Terjemahan. Judul asli: Guide to Old Testament Prophecy. Pengarang: Harry Mowvley. Penerbit: PT BPK Gunung Mulia, 2000. ISBN: 979-9290-22-8

Abstraksi: Buku memberi informasi mendasar bagi setiap orang yang ingin memahami kenabian dalam Perjanjian Lama. Pendekatan pertama yang dipakai adalah meneliti tulisan-tulisan para nabi dan mempelajarinya dengan bantuan buku-buku tafsir. Pendekatan kedua adalah dengan memahami prinsip-prinsip dasar dari nubuat Perjanjian Lama, seperti: pentingnya sabda ilahi/firman, tindakan simbolis dan pengertian tentang ide-ide kenabian, hubungan antara imam dan nabi, serta antara ucapan kenabian dan sastra hikmat.

Kata-kata kunci: Nubuat, nabi, analis, pemberitaan nabi, orang-orang bijak, apokaliptik

Lihat Buku: Penuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama

13. “Ilah-ilah Global: Menggali Peran Agama-agama dalam Masyarakat Modern”

Buku Terjemahan. Judul asli: Christian Origins and Cultural Anthropology: Practical Models for Biblical. Pengarang: David W. Shenk. Penerbit: PT BPK Gunung Mulia, 2001. ISBN: 979-687-022-3

Abstraksi: Buku ini lahir dari pengalaman Shenk, sebagai pakar perbandingan agama-agama, dalam berinteraksi dengan para pemeluk agama-agama di dunia, ketika diperhadapkan dengan berbagai persoalan masa kini. Alhasil, buku ini adalah sebuah refleksi bagi siapa saja yang tetap percaya bahwa agama-agama dapat menjadi inspirasi positif sebagai jalan perdamaian yang mengantar umat manusia kepada cita-cita kehidupan sejati yakni kesejahteraan, perdamaian, dan keadilan.

Kata-kata kunci: desa global, ilah-ilah, agama-agama, keadilan, perdamaian

Lihat Buku: Buku Terjemahan – Ilah-ilah Global – 2001

Pdt. Prof. Samuel Benyamin Hakh, D.Th.

samuel hakhBiodata Singkat

Kepala Unit Penjaminan Mutu Internal

Pengampu MK: Pengantar Perjanjian Baru, Hermeneutika Perjanjian Baru, Bahasa Yunani.

Email: samuel.hakh@stftjakarta.ac.id

Profil Akademis:

Google Scholar

SINTA

SCOPUS

Untuk biodata lengkap klik di sini.

KARYA ILMIAH

1. “Woman in the Geneology of Matthew”

Dalam Jurnal: Exchange: Journal of Missiological and Ecumenical, Vol. 43, No. 2, 2014; ISSN: 0166-2740. pp. 109-118

Abstraksi: The author of the gospel of Matthew has interpolated woman’s names in the genealogy of Jesus: Tamar, Rahab, Ruth, the wife of Uriah (Bathsheba) and Mary. He interpolated those woman’s names in order to convey to his community the image that Jesus has a genealogical relationship not only with Israel as the elected people of God but with all nations throughout the world. In other words, he endeavours to describe Jesus as the Saviour of all nations. This image was imparted by presenting the situation of his community as consisting not only of Jewish Christians but of non-Jews as well.

Kata-kata kunci: genealogy, Jesus, Matthew, mission, salvation, women

Lihat Artikel: Jurnal Exchange Vol. 43 No. 2, 2014

2. The Conscience According to Paul”

Dalam Jurnal: The American Journal of Biblical Theology Vol. 14, Issue 52, Desember 2013; ISSN: 1531-7919, Jack Carter Publisher (Jurnal Online)

Abstraksi: Each person’s conscience serves to control all the actions and decisions that we take. As a controller, the conscience shows which actions and decisions are right and wrong, which should be accepted and which should be rejected. The apostle Paul argues that the conscience of a person can lead the right path and enable that person to live a comfortable, peaceful and prosperous life. But conscience can be conquered by evil desires. Consequently, conscience can be blunt so it cannot distinguish between right and wrong, or good and evil. Interestingly, in due time conscience will testify before God concerning all of our actions. When the conscience is constantly renewed, with a clear conscience, people are able to accurately assess the actions they wish to do, good or bad, fair or unfair.

Kata-kata kunci: conscience, control, heart, Paul, witness

Lihat Artikel: http://www.biblicaltheology.com/Research/HakhSB01.pdf

3. “Status dan Peranan Perempuan dalam Masyarakat Yahudi dan Kristen menurut Alkitab”

Dalam Jurnal: Jurnal KRITIS, Vol. XX, No. 1, April – Juli 2008. ISSN: 0215-4765. Program Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana. pp. 27-39.

Abstraksi: The discussion on the status and the role of women in our society has become a controversial topic. Some have the opinion that woman have to keep silence in public meeting and submit to their husbands. Sometimes this opinion is supported by cultural values in our society. But some have objection to this opinion and assert that men and woman have the same status. Also we can find the similar controversion about the status and role of women in Israelites’ society found in the Bible. In this paper, I will explore the Biblical passages related to the status and role of woman. Furthermore, I will give the specific attention to some controversial passages regarding the status of women in the old and the new testament. Finally, I will give my own opinion about this controversial topic from a theological point of view.

Kata-kata kunci: perempuan, penolong, kedudukan, peranan, pelayan, masyarakat, gereja, jemaat

Lihat Artikel: Jurnal Kritis Vol. XX No. 1 Apr – Jul 2008

4. “Silsilah Yesus Menurut Injil”

Dalam Jurnal: Jurnal Studia Philosophica et Theologica Vol. 9, No. 2, Oktober 2009; ISSN: 1412-0674. Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang. pp. 214-246.

Abstraksi: Genealogy is used as a tool in order to trace identity of someone, so that he or she can get an acknowledgement in the society. Because without the acknowledgement, the person can not be received in relation with others. When Matthew’s community face with crisis identity because they were rejected by Jews community, Matthew formed the genealogy of Jesus to declare their identity. The crisis identity was emerged because of their faith in Jesus as the Lord, and their savior. But, like the Jews community, they perform the Abraham tradition as well. Therefore, Matthew made up this genealogy to connect their tradition into the faith tradition of Abraham. The aim was to explain that Jesus, the son of Daud and Abraham, to whom they believed, was the heir of the salvation which be promised by God. Therefore, everyone who believes in Him, they get the salvation and grace of Abraham.

Kata-kata Kunci: silsilah, nenek moyang, keturunan, iman, komunitas, krisis

Lihat Artikel: Jurnal Studia Philosophica et Theologica Vol. 9 No. 2 Oktober 2009

5. “Pola Pendidikan Yesus dan dan Respons Para MuridNya: Suatu Kajian Teologis Pedagogis Menurut Injil-injil Sinoptik”

Dalam Jurnal: Jurnal ARASTAMAR, Vol. 4 No. 1, Januari 2013. ISSN: 2085-9627. Departemen Literatur dan Media STT Arastamar. pp. 19-36.

Abstraksi: Education as an activity that be performed regularly and systematically by someone to another person or by one generation in order to shift the supreme values to prepare a competent router generation to do their job in the future. To aware the values of the education, when Jesus began His service in Palestine, He educated his twelve disciples to continue His service in the society. The pattern of the education that Jesus gave to His disciples was not just theoretically but also practically. Even, he become a model or an example for His disciples. The benefit of Jesus education is that his disciples can continue His service when He ascend to heaven.

Lihat Artikel:  Jurnal Arastamar Vol. 4 No. 1 Januari 2013

6. “Kekerasan Mengatasnamakan Agama: Suatu Tinjauan Etis Alkitabiah dari Sudut Perjanjian Baru”

Dalam Jurnal: Jurnal SOLA EXPERIENTIA, Vol. 1, No. 1, April 2013. ISSN: 2337-6813. Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dan Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia. pp. 64-81.

Abstraksi: Semua agama mengajarkan kasih dan damai kepada para pengikutnya. Tetapi kita tidak bisa menyangkali bahwa ada banyak kekerasan terhadap sesama dengan mengatasnamakan agama. Tindakan-tindakan kekerasan itu terjadi karena penafsiran-penafsiran yang tidak konprehensif terhadap beberapa ayat suci yang menarik perhatian para pemeluk agama. Lalu, ayat-ayat itu dipakai sebagai pembenaran terhadap aksi kekerasan mereka. Tetapi Yesus menentang penggunaan kekerasan oleh para muridNya. Dalam perkataan lain, mereka harus menghadapi kekerasan dengan kasih. Sikap yang sama diikuti oleh para muridNya dan penulis-penulis Perjanjian Baru. Mereka menasihati jemaat agar membalas kekerasan dengan berbuat kasih dan member berkat.

Kata-kata Kunci: agama, kekerasan, kasih, masyarakat, zelot, Makabi, hokum, ius talionis, penganiayaan, bara api

Lihat Artikel: Jurnal Sola Experientia Vol. 1 No. 1 April 2013

7. “Pendidikan Agama Kristen bagi Anak dalam Keluarga menurut Perjanjian Baru”

Dalam Jurnal: Jurnal MATHETEUO, Vol. 1, Edisi 3, Oktober 2013. ISSN: 2252-3626. Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Kupang. pp. 1-18.

Abstraksi: Pendidikan merupakan suatu aktivitas yang sangat penting di dalam keluarga-keluarga bangsa Israel, karena pendidikan itu diamanatkan oleh Tuhan dalam Alkitab. Maksud dari pendidikan itu, supaya anak-anak Israel memahami dan meyakini perbuatan besar Allah dalam perjalanan sejarah umat Israel sehingga mereka memiliki iman yang teguh kepada Yahweh Allah Israel itu. Oleh sebab itu, keluarga-keluarga di dalam masyarakat bangsa Israel wajib mendidik anak-anak mereka sejak kecil. Ada bermacam-macam metode pendidikan yang dipakai, antara lain, metode berceritera, metode bermain peran, metode Tanya jawab, dsbnya. Dengan metode-metode ini, anak diharapkan dimampukan untuk menyerap pendidikan nilai yang diberikan kepadanya.

Kata-kata Kunci: anak-anak, iman, Israel, keluarga, pendidikan

Lihat Artikel: Jurnal Matheteuo Vol. I Ed. 3 Oktober 2013

8. “Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar dan Pokok Teologisnya”

Dalam Buku: Bina Media Informasi, Agustus 2010.ISBN: 978-979-1169-65-3.

Abstraksi: Alkitab, khususnya Perjanjian Baru tidaklah mudah bisa dipahami, sebab para penulis Alkitab menyajikan tulisan-tulisannya dalam berbagai bentuk sastra, antara lain: sastra hikmat, perumpamaan, puisi, surat, apokaliptik, dsbnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan catatan-catatan pengantar untuk memahami latar belakang social, politik dan budaya serta gagasan teologis dari setiap tulisan, khususnya dalam Perjanjian Baru. Dengan memahami latar belakang dan gagasan teologis dari setiap tulisan Perjanjian Baru, memudahkan setiap pembaca untuk mengaplikasikan makna dari gagasan-gagasan teologis itu dalam kehidupan sehari-hari umat, sehingga bisa menjadi panduan atau penuntun dalam berkarya dan melayani.

Kata-kata Kunci: gereja, Injil, Yesus, sejarah, surat, teologis.

Lihat Cover: Buku – Perjanjian Baru – Sejarah, Pengantar dan Pokok-pokok Teologisnya – Agustus 2010

9. “Peranan Nous dan Suneidesis dalam Pengambilan Keputusan dan Pemberantasan Korupsi”

Dalam: Makalah Penelitian Ilmiah Ditjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI

Abstraksi: Setiap hari manusia dihadapkan dengan pengambilan keputusan, baik bersifat informal dalam keluarga, maupun bersifat formal dalam lingkup pekerjaan, maupun dalam lingkungan masyarakat. Dalam rangka pengambilan keputusan itu, akal budi (nous) dan hati nurani (suneidesis) memiliki peran yang penting dalam memberikan pertimbangan-pertimbangan. Hasil dari pertimbangan itu sangat ditentukan oleh, berbagai factor, antara lain, tekanan dari luar orang yang bersangkutan maupun dorongan hati nuraninya sendiri. Tekanan dari luar bisa bersifat positif tetapi juga bisa juga bersifat negatif. Dorngan-dorongan itu bisa mempengaruhi akal budi dan hati nurani dalam pengambilan keputusan. Oleh sebab itu, akal budi dan hati nurani perlu selalu dibaharui agar sungguh-sungguh bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar dirinya. Dengan demikian akal budi yang sehat dan hati nurani yang bersih akan bisa menghasilkan keputusan yang benar dan adil. Sebaliknya akal budi yang sakit dan hati nurani yang rusak akan menghasilkan keputusan yang tidak memihak pada keadilan dan kebenaran.

Kata-kata Kunci: hakim, hukum, keputusan, korupsi, norma, nous, suneidesis

Lihat Artikel: Makalah Penelitian Mandiri – Peranan Nous dan Suneidesis dalam Pengambilan Keputusan dan Pemberantasan Korupsi

10. “Pembenaran oleh Iman Menurut Paulus dalam Pemahaman Protestan”

Disampaikan pada: Seminar Tahun Paulus, Lembaga Alkitab Indonesia

Lihat Artikel: Makalah Seminar Tahun Paulus LAI

11. “Hikmat Menurut Paulus”

Disampaikan pada: Simposium Nasional V ISBI 2010.

Lihat Artikel: Makalah Simposium Nasional V ISBI 2010 – Perkembangan Tradisi Hikmat dalam Alkitab

12. Persoalan Status Sebagai Anak-anak Abraham dalam Surat Galatia

Dalam Jurnal: Jurnal Gema Teologika, Vol. 1, No. 1, April 2016. ISSN: 2502-7743. Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana. pp. 64-81.

Abstraksi: Dalam Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia, salah satu pokok perdebatan teologis sosiologis yang mencuat ke permukaan adalah status sebagai anak-anak Abraham melalui sunat. Sebab menurut kelompok orang Kristen Yahudi yang datang ke Galatia, orang Kristen non-Yahudi wajib disunat dan melaksanakan hukum Taurat, jika mereka ingin beroleh selamat. Sebab keselamatan hanya diberikan kepada orang-orang yang menjadi anak-anak Abraham secara penuh.  Di pihak lain, Paulus menolak kewajiban itu. Menurut Paulus, oleh iman di dalam Kristus, anak Abraham itu, orang Kristen di Galatia telah beroleh status sebagai anak-anak Abraham dan mewarisi janji berkat Allah itu, yakni keselamatan. Dalam artikel ini saya berargumentasi bahwa perdebatan itu terjadi karena satu pihak, kelompok Yahudi itu berpegang teguh kepada tradisi sunat karena tradisi itu telah diberlakukan sejak Abraham dan diyakini sebagai jalan keselamatan, sementara Paulus menekankan pada iman serta taat kepada keputusan sidang di Yerusalem bahwa sunat tidak diwajibkan bagi orang non-Yahudi.

Kata-kata Kunci: Abraham, sunat, iman, Injil, anugerah, pembenaran, Taurat, keturunan, anak-anak Abraham, status.

Lihat Artikel: SBH – Jurnal Gema Teologi April 2016

Lihat Nilai Peer Review: Nilai-peer-review-jurnal-gema-teologi

13. Kuduslah Kamu Sebab Aku Kudus (1 Petrus 1:16)

Dalam Jurnal:  Jurnal SOLA EXPERIENTIA, Vol. 2, No. 2, Oktober 2014, ISSN: 2337-6813, Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dan Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia, Hal. 124-143.
Abstraksi: Jemaat, yang disapa dalam surat 1 Petrus, adalah satu jemaat yang hidupnya terasing dan teraniaya. Ketika mereka menjadi Kristen, mereka dianggap sebagai “orang asing”, sebab kekristenan masih asing bagi masyarakat yang pada umumnya kafir. Apalagi kebanyakan anggota jemaat berasal dari golongan bawah. Itulah sebabnya mereka menjadi sasaran penganiayaan dari masyarakat sekitar. Walau anggota jemaat itu hidup dalam keadaan yang sulit, penulis surat 1 Petrus menasihati anggota jemaat agar taat kepada pemerintah dan meyakinkan jemaat supaya mereka tabah dalam menghadapi penganiayaan itu dan memelihara hidup yang kudus, sebab Allah, yang telah memanggil jemaat itu adalah kudus.

Kata-kata Kunci: kudus, dosa, orang asing, tabah dalam penderitaan, anak-anak yang taat, pendatang dan perantau, pengharapan

Lihat Artikel: Jurnal-sola-experientia-vol-2-no-2-oktober-2014

Lihat Nilai Peer Review: Nilai-peer-review-jurnal-sola-experientia

14. Menimbang Lambang Penunggang Kuda Putih dalam Wahyu 6:1-2

Dalam Jurnal: Jurnal Forum Biblika, No. 28 – 2015, ISSN: 1410-7007, Lembaga Alkitab Indonesia,          Hal. 56-65.

Abstraksi: Kitab Wahyu adalah salah satu kitab yang ditulis untuk menyampaikan firman Allah dengan memakai simbol-simbol yang disampaikan melalui penglihatan-penglihatan, yang tidak mudah dimengerti oleh semua orang. Maka simbol-simbol itu perlu ditafsirkan agar bisa dipahami oleh pembaca pada umumnya. Salah satu simbol itu adalah ”kuda putih” yang terdapat dalam kitab Wahyu pasal 6:2, yang melambangkan upaya gereja untuk memberitakan Injil kebenaran dan sukacita kepada semua orang. Kuda putih ini dibedakan dari kuda-kuda yang lainnya yaitu kuda merah, yang melambangkan peperangan, kuda hitam yang melambangkan bencana kelaparan, dan kuda kuning yang melambangkan maut atau kematian.  Melalui penglihatan ini,  Yohanes, yang sedang berada di pulau Patmos pada waktu itu, menyampaikan kepada jemaat-jemaat yang disapanya, termasuk seluruh jemaat pada masa kini  bahwa gereja telah dipanggil dan diutus ke dalam dunia untuk memberitakan Injil dan menjadi berkat bagi sesama umat manusia. Itulah tugas gereja yang harus dilakukan agar setiap orang yang percaya kepada Injil itu, beroleh selamat.

Kata-kata Kunci: Injil, jemaat, Kuda putih, kuda merah, kuda hitam, kuda kuning, kebenaran, simbol, 

Lihat Artikel: Jurnal-forum-biblika-no-28-2015-1

Lihat Nilai Peer Review: Nilai-peer-review-jurnal-forum-biblika

15. Akal Budi dan Hati Nurani

Dalam Buku: Penerbit: Bina Media Informasi, Agustus 2014, ISBN: 978-979-1169-99-8

Abstraksi: Nous dan Suneidesis (akal budi dan hari nurani)  adalah pemberian Allah dalam hati manusia yang berfungsi sebagai pengontrol untuk membedakan  manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada  Allah, dan  yang sempurna. Fungsi kontrol nous dan suneidesis itu meliputi, tutur kata, sikap dan tindakan, termasuk setiap keputusan yang manusia lakukan baik di lembaga-lembaga peradilan, maupun dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Namun, nous dan suneidesis tidak ilahi. Oleh sebab itu, nous dan suneidesis dapat dikuasai oleh kekuatan-kekuatan atau kuasa-kuasa dari luar dirinya sehingga fungsi kontrolnya tidak lagi terlaksana dengan baik. Akibatnya  manusia yang memiliki nous dan suneidesis yang demikian, bisa menyimpang dari kebenaran dan keadilan dalam berkata-kata, bersikap dan bertindak. Oleh sebab itu, nous dan suneidesis setiap orang perlu mendapatkan pendidikan praktis melalui upaya menanamkan nilai-nlai luhur mengenai kejujuran, kebenaran, dan keadilan, serta nilai-nilai etika dan nilai-nilai spiritual, seak dini agar bisa memberikan kontrol bagi manusia dalam kehidupannya setiap hari. Lebih dari itu, sebagai orang yang beriman, perlu memberi diri untuk secara terus menerus dibaharui oleh Roh Kudus melalui penyerahan diri kepada Tuhan. Oleh pembaharuan yang dilakukan secara terus menerus itu, nous dan suneidesis manusia dapat secara terang dan jelas memberikan kontrol dan arahan bagi manusia dalam kehidupannya setia hari.

Kata-kata Kunci: Keadilan, kebenaran, kejujuran, kontrol, nous, pendidikan, suneidesis

Lihat Artikel: Buku-akal-budi-dan-hati-nurani-2-1

Lihat Nilai Peer Review: Nilai-peer-review-buku-akal-budi-dan-hati-nurani

16. “BERTUMBUH, SEKALIPUN TERCABUT DARI AKARNYA

Dalam Buku: Berakar dan Bertumbuh di Dalam Dia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017. ISBN: 978-602-231-441-7

Abstrak: Dalam tulisan ini, saya berusaha melihat sejauh mana proses pertumbuhan dan penghambatan yang dialami gereja mula-mula dapat ditarik implikasinya bagi pertumbuhan gereja di Indonesia. Mengingat luasnya penghambatan yang dialami gereja mula-mula, maka secara khusus, tulisan ini fokus menyorot masalah pertumbuhan dan penghambatan gereja yang tergambar dalam Injil Matius berdasarkan pandangan beberapa pakar guna dicari implikasinya bagi pertumbuhan gereja di Indonesia.

Kata-kata kunci (keywords): Gereja, pertumbuhan, Injil, Matius.

Lihat Artikel: Bertumbuh, Sekalipun Tercabut dari Akarnya

17.  KORUPSI MENURUT PERJANJIAN BARU

Dalam Buku: Berhikmat dan Berbagi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017. ISBN: 978-602-5442-02-5

Abstrak: Tulisan dengan judul “Korupsi Menurut Perjanjian Baru” hendak mengingatkan kita bahwa korupsi merupakan penyakit akut yang aktual/viral pada masa kini dan entah kapan akan berakhir. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, penulis menyoroti korupsi dari sudut panjang Perjanjian Baru.

Kata-kata kunci (keywords): korupsi, Alkitab, perjanjian baru

Lihat Artikel: Korupsi Menurut Perjanjian Baru

18. Peranan Orang Kristen dalam Pusaran Politik di Indonesia (Suatu Tinjauan Historis – Teologis)

Dalam Jurnal: Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Vol 2, No.1 – 2018, ISSN: 2580-7900, Sekolah Tinggi Theologia Wesley Methodist Indonesia, Hal. 1-17.

Abstraksi: Tulisan ini disusun untuk menjelaskan bahwa perjuangan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia telah dilakukan berabad-abad oleh seluruh rakyat di Nusantara, termasuk orang Kristen, dengan keringat dan air mata, bahkan dengan pertumpahan darah. Oleh sebab itu, kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah atau usaha dari suatu golongan tertentu, melainkan merupakan anugerah Tuhan yang dinyatakan melalui perjuangan semua golongan dan suku-suku di seluruh Indonesia dari Sabang hingga Merauke, dan dari Sangir hingga ke Rote. Maka sebagai suatu bangsa yang bermartabat, dan yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, kita harus jujur terhadap perjalanan sejarah bangsa kita sendiri. Dengan begitu kemerdekaan Indonesia sebagai anugerah Tuhan, patut kita terima dengan ucapan syukur sambil bersama-sama membangun Indonesia yang adil, sejahtera, damai di masa depan.

Kata-kata Kunci: Politik, Kristen, Indonesia, Kemerdekaan, peranan. 

Lihat Artikel: Samuel Hakh – Artikel Jurnal Voice of Wesley

19. “Keteladanan dan Belarasa seorang Gembala sebagai  Pemimpin yang Authentik”

Dalam Jurnal: SAPIENTIA Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, Vol 1, No.1 – 2019, ISSN: 2685-1687, Perkumpulan Dosen dan Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia, Hal. 1-11.

Abstraksi: Keteladanan dan belarasa seorang gembala umat merupakan dua aspek yang penting dalam melaksanakan tugasnya sebagai gembala bagi umat yang digembalakan. Persoalan yang timbul adalah keteladanan dan belarasa itu bisa menjadi aspek yang krusial sebab dalam kenyataannya pemahaman tentang keteladanan dan belarasa sebagai seorang gembala umat tidak  aplikatif. Keadaan itu menyebabkan seorang gembala bisa menjadi gembala yang upahan, Artikel ini merupakan suatu konstruksi teologis mengenai penyebab tidak aplikatifnya aspek keteladanan dan belasara itu dalam tugas seorang gembala umat karena tidak sungguh-sungguh mengikuti keteladanan dan belarasa Yesus dan Paulus dalam pelayanannya. Maka dalam artikel ini saya membahas keteladanan dan belarasa Yesus dan Paulus menurut bahan-bahan dalam Injil-Injil dan Surat-surat Paulus, serta ciri-ciri seorang gembala yang autentuk, dengan menggunakan analisis deskriptif. Akhirnya saya akan memberikan beberapa kesimpulan yang bersifat aplikatif.

Kata-kata Kunci: autentik, gembala, Inji-Injil, keteladanan, Paulus, Yesus  

Lihat Artikel: Jurnal Sapientia – Samuel Benyamin Hakh