Pdt. Besly Y. Tungaoly Messakh, D.Th. (†)

besly_0Biodata Singkat:

Kepala Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (UPPM)

Pengampu MK: Teologi Pastoral

Email: besly.messakh@stftjakarta.ac.id

Profil Akademis:

Google Scholar

SINTA

Untuk biodata lengkap klik di sini.

KARYA ILMIAH

1. “Menuju Pelayanan Pastoral Yang Relevan dan Kontekstual

Dalam Jurnal: Theologia in Loco, Vol. 1, No. 1, 2018. ISSN: 2621-4911. STFT Jakarta. pp. 22-40.

Abstract: Dari waktu ke waktu gereja terus mencari, membaharui, dan melengkapi model pelayanan pastoral yang dipakai dalam rangka memberikan respons terhadap berbagai masalah kemanusiaan yang mesti ditangani secara pastoral.Upaya ini mencerminkan keseriusan gereja menemukan model pelayanan pastoral yang relevan dan kontekstual bagi kepentingan pelayanan pastoral itu sendiri. Karena itu, dalam paper ini model-model pelayanan pastoral yang telah dan sedang dikembangkan gereja akan didalami dalam rangka menemukan relevansinya bagi praktik pelayanan pastoral gereja-gereja di Indonesia.Diharapkan dengan upaya ini dapat dijelaskan hal-hal yang mesti diperhatikan oleh gereja-gereja di Indonesia dalam pengembangan pelayanan pastoral yang relevan dan kontekstual sehingga gereja mampu merespon berbagai masalah kemanusiaan secara bertanggungjawab.

Keywords: gereja, Indonesia, kontekstual, konseling, pastor, pelayanan pastoral, penggembalaan, pendampingan pastoral, relevan

Lihat Artikel Lengkap: Menuju Pelayanan Pastoral Yang Relevan dan Kontekstual

Pdt. Septemmy E. Lakawa, Th.D

septemmy2Biodata Singkat:

Ketua STFT Jakarta

Pengampu MK: Studi-studi Misi, Teologi Misi, Teologi Trauma.

Email: septemmy.lakawa@stftjakarta.ac.id

Profil Akademis:

Google Scholar

SCOPUS

Untuk biodata lengkap klik di sini.

 1. “Misiologi Luka: Mengimajinasikan Ulang Misi di Indonesia Masa Kini”

Dalam Buku: Misiologi Kontemporer: Merentangkan Horison Panggilan Kristen. ISBN: 978-602-231-534-6. BPK Gunung Mulia, tahun 2018. Hal. 3 – 32.

Abstraksi: Misiologi Luka adalah konstruksi misiologis pasca-kekerasan, yang menjadikan masa sesudah kekerasan, sesudah peristiwa traumatis, the aftermath of trauma, menjadi situs dan teks utamanya.Misiologi ini adalah an aftermath missiology yang mengimajinasikan ulang misi dari masa pasca kekerasan yang meninggalkan luka (trauma) pada hidup individu, komunitas, dan, bahkan, masyarakat-bangsa..

Kata-kata Kunci: Misiologi, Luka, trauma,  an aftermath missiology, the aftermath of trauma

Lihat Artikel Lengkap: Misiologi Kontemporer – Septemmy Lakawa resize

Pdt. Yusak Soleiman, Ph.D

Yusak 2FB_IMG_1532418861012-03Biodata Singkat:

Dosen Tetap STFT Jakarta

Pengampu MK: Sejarah Agama Kristiani 1 dan 2, Sejarah Kekristenan Asia, Sejarah Gereja dan Teologi di Asia, dan Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam.

Email: yusak.soleiman@stftjakarta.ac.id

Profil Akademis:

Google Scholar

SINTA

Untuk biodata lengkap klik di sini.

1. “Unification of Lutheran and Reformed in 19th Century Batavia as Initiated by the King of the Netherlands (Gereja Immanuel)”

Dalam Jurnal: Mission Sparks. Edisi ke-2 – Desember 2016. ISSN: 2527-9890.  UEM. pp: 26-42.

Abstraksi:

Kata-Kata Kunci: 

Lihat Isi: Unification of Lutheran and Reformed in 19th Century Batavia (Gereja Immanuel) – Yusak Soleiman & Huub Lems

2. “Kontekstualisasi dan Penanaman Injil pada Awal Abad XXI”

Dalam Buku: 150 Tahun Pekabaran Injil Patekoan: Dari Gereja Tionghoa ke Gereja Kristen Indonesia. ISBN: 978-602-231-490-5. BPK Gunung Mulia, tahun 2018. Hal. 149 – 155.

Abstraksi: Dalam tulisan ini, penulis memberikan sedikit gambaran bagaimana proses dan pengaruh masuknya penginjilan protestan terhadap komunitas Cina-Perantauan di Batavia. Dalam perkembangan selanjutnya komunitas/gereja ini mengalami proses kontekstualisasi dan penanaman Injil yang mempengaruhi pembentukan identitas gerejawinya. Penulis juga mencoba memberikan perspektif global dan arahan untuk perjalanan ke depan menjadi Gereja tua yang mapan di dalam dinamika pergolakan Indonesia.

Kata-kata Kunci: Kontekstualisasi, Penanaman Injil, GKI, Komunikasi, Komunitas, Patekoan, Cina-Perantauan

Lihat Artikel Lengkap: Bab Buku 150 Tahun Pekabaran Injil Patekoan-Yusak Soleiman

3. “Menuju Eklesiologi Abad XXI Gereja-gereja di Indonesia – Perbandingan Antara Gereja-Gereja Ex-Zending di Pulau Jawa (GKP dan GKJ) dengan ex-PKNI (GPM dan GPIB)”

Dalam Buku: Gereja Orang Merdeka, Eklesiologi Pascakolonial Indonesia. ISBN: 978-602-17030-1-4. Makassar: Yayasan Oase Intim, tahun 2019. Hal. 303 – 332.

Abstraksi: Dalam tulisan ini menjelaskan bagaimana gelombang pertama kedatangan Protestantisme ke Hindia Belanda (Indonesia) yang dibawa oleh zending yang ditandai dengan munculnya de Gereformeerde Kerken (GK) dan gelombang kedua kedatangan Protestantisme dengan munculnya Protestantse Kerk in Nederlandsch Indie (PKNI). Gelombang kehadiran pertama itu sendiri adalah kenyataan gereja-gereja mandiri di Hindia Belanda yang mulai membentuk sinode-sinode antara lain GKP dan GKJ (Non-PKNI dan Non-GPI).

Kata-kata Kunci: Protestantisme, de Gereformeerde Kerken (GK), zending, PKNI. GPI, GKP, GKJ

Lihat Artikel Lengkap: Bab Buku Gereja Orang Merdeka – Yusak Soleiman

4. “Impact of the Religious Policies Enacted from 1965 to 1980 in Christianity in Indonesia

Dalam Jurnal: Mission Studies: Journal of International association for Mission Studies. Vol. 6, Nomor 2 –  2019. ISSN: 0186-9789 (Printed), 1573-3831 (Online).  BRILL. pp: 191-218.

Abstraksi: Between 1965 and 1980, the Indonesian government issued three religious policies. These had both positive impact, the Indonesian Council of Churches (DGI) and the Supreme Council of Indonesian Bishops (MAWI) were motivated to work together in lobbying the government. The policies also boosted the growth of local leadership in Catholic Churches. However, the policies also brought a negative impact in that it became difficult for churches to obtain an IMB (Building Permit). In mid-eighties, Christianity could still perform religious services in churches without any disturbances, but after the 1990s, churches with no Building Permit were banned by some radical Islamic organizations. Preaching the gospel was considered violation of the law and a Christian could be sent to prison for performing this activity.

Kata-Kata Kunci: Religious policies – conversion – Protestantism – Catholism – Islam – Building permit – minister of Religious Affairs.

Lihat Isi: Jurnal Mission Studies Vol. 36 No. 2 – 2019

Pdt. Justitia Vox Dei Hattu, Th.D

justiBiodata Singkat:

Kepala Program Studi S-2
Pengampu MK: Pendidikan Kristiani.
Email: justitia.hattu@stftjakarta.ac.id

Untuk biodata lengkap klik di sini.

KARYA ILMIAH

1. “Christian Education for Enhancing Adult Meaning-Making Oriented for Transformation in the Contemporary Context of Indonesia”

Dalam Jurnal: A Journal of Christian Education in Korea, Vol. 39, Oktober 2014. ISSN: 1229-781X-72. The Korean Society for the Study of Christian Religious Education, Korea. pp. 151-171

Abstract: The indoctrination model governed by a dictation method, which mostly dominates adult Christian education in the church of Indonesia, limits the space of adults meaning-making activity. Therefore adults are not creative enough to respond towards various situations brought by the contemporary context of the Indonesia they encounter everyday. The adult meaning-making model oriented for transformation emerges as a response against indoctrination model and its dictation method. This model promotes critical thinking, mutual dialogue, and transformation as main characteristics of adult meaning-making activity.

Keywords: adult, meaning-making, indoctrination, dictation, critical thinking, mutual dialogue, transformation

Lihat Artikel Lengkap: Jurnal Christian Education (Oktober 2014)

Lihat Penilaian Reviewer: Justitia Vox Dei Hattu – Peer Review – Journal of Christian Education in Korea

 

2. “Gereja dan Pendidikan Kristiani untuk Orang Dewasa: Antara Harapan dan Kenyataan”

Dalam Jurnal: Jurnal Teologi Diegesis Vol. 1, No. 1, Agustus 2016. ISSN: 2528-7025. Unit Penerbit dan Literatur STT Bethel. pp. 29-38.

Abstract: Kita tidak dapat memungkiri bahwa pendidikan kristiani untuk orang dewasa dalam konteks Gereja-gereja di Indonesia masa kini masih didominasi oleh model indoktrinasi dengan metode mendiktenya. Akibatnya, orang dewasa tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengembangkan diri, kemampuan berpikir kritis, dan membangun relasi (yang dialogis) dengan orang-orang di sekitarnya ketika mereka ada bersama-sama untuk belajar. Tulisan ini mengajak kita melihat konsekuensi dari model pendidikan yang indoktrinatif dan mengusulkan kepada kita model pendidikan orang dewasa yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, membangun relasi yang dialogis, serta berorientasi pada transformasi. Ketiga karakteristik ini dikembangkan dari tiga teori/model pembelajaran orang dewasa, yaitu teori andragogi yang dipopulerkan oleh Malcolm Knowles, model pembelajaran transformatif yang diperkenalkan oleh Jack Mezirow, dan model story-linking yang dipromosikan oleh Anne Wimberly.

Keywords: gereja, pendidikan kristiani, orang dewasa, indoktrinasi, berpikir kritis, dialogis, transformasi, andragogi, pembelajaran transformatif, story-linking

Lihat Artikel Lengkap: Jurnal Diegesis (Agustus 2016) pdf

Lihat Penilaian Reviewer: Justitia Vox Dei Hattu – Peer Review – Jurnal Diegesis

3. “Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Bingkai Kurikulum 2013: Beberapa Butir Pemikiran Dari Perspektif Pendidikan Kristiani”

Dalam Buku: Education for Change, ISSN: 2528-7025. Unit Penerbit dan Literatur STT Bethel. 2017. pp. 222-236.

Abstract: Berkualitas atau tidaknya sebuah kurikulum, tidak hanya ditentukan oleh isi dari kurikulum tersbut, tetapi ditentukan juga oleh guru (mata pelajaran apapun) sebagai pelaksana kurikulum tersebut. Jika demikian, maka seorang Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam pelaksanaan kurikulum, khususnya kurikulum 2013 yang sementara diberlakukan di sekolah-sekolah seantero nusantara ini, sangat strategis. Sebagai pelaksana kurikulum, Guru PAK setidaknya memainkan peran empat strategis. Pertama, Guru PAK sebagai seorang ilmuwan yang mempertanyakan hal-hal yang belum diketahui dan bersama dengan para siswanya mereka menyelidiki dan mencari jawaban atas hal-hal yang masih menjadi misteri. Kedua, Guru PAK sebagai seorang coach yang mampu menciptakan sebuah suasana belajar-mengajar yang bersahabat bukan menindas, sehingga proses pembelajaran itu sendiri membuka ruang seluas-luasnya bagi para siswa untuk mengembangkan potensi diri secara maksimal. Ketiga, Guru PAK sebagai seorang event organizer yang dalam mendesain rencana-rencana pembelajaran berupaya semaksimal mungkin untuk menyesuaikan dengan apa yang menjadi kebutuhan para siswa dan bukan sekedar mementingkan apalagi memuaskan keinginan sang guru semata. Dan terakhir, Guru PAK sebagai seorang hakim yang mampu menilai para siswa secara adil dan bertanggungjawab, dan bukan sekedar atas dasar suka atau tidak suka.

Keywords: Guru PAK, Kurikulum 2013, ilmuwan, coach, event organizer, hakim

Lihat Artikel Lengkap: Justitia Hattu – Bab Buku – Education For Change (2017)

Lihat Penilaian Reviewer: Justitia Vox Dei Hattu – Peer Review – Bab Buku Education for Change

 

4. “Protestanisme dan Pendidikan Kristiani

Dalam Buku: Menuju Gereja Orang Basudara, ISBN: 978-602-1047-77-4. Satya Wacana University Press. pp. 280-297.

Abstract:

Protestanisme sudah hadir di Bumi Seribu Pulau sejak ratusan tahun yang lalu. Dalam rentang ratusan tahun itu, dialektika terajut di dalamnya dan mewujdu salah satunya dalam ranah pendidikan. Tulisan sederhana ini hadir sebagai upaya untuk memotret dialektika relasi antara Protestanisme (Calvinis) dengan konteks Maluku pada ranah pendidikan. Apa yang hendak saya tawarkan lewat tulisan ini adalah sebuah refleksi atas pelaksanaan Pendidikan Kristiani (yang dibutuhkan) dalam konteks Gereja (Gereja Protestan Maluku) atau dalam konteks masyarakat kepulauan, yakni Maluku. Salah satu pertanyaan utama yang akan dijawab melalui tulisan ini adalah model pendidikan seperti apa yang diharapkan muncul dalam konteks bergereja/bermasyarakat di Bumi Seribu Pulau yang begitu dipengaruhi oleh teologi Calvinis?

Tulisan ini terbagi atas dua bagian besar: pertama tulisan ini dimulai dengan uraian singkat tentang Protestanisme (Calvinis) dengan fokus pada pandangan tentang pendidikan; dan kedua, keterkaitan antara konteks Gereja atau masyarakat kepulauan dan implikasi yang dibawasertanya bagi desain Pendidikan (Kristiani) dalam konteks tersbut, serta bagaimana Pendidikan (Kristiani) berupaya menjawab tantangan tersebut.

Keywords: Protestanisme, Calvinis, Pendidikan Kristiani

Lihat Artikel Lengkap: Justitia Hattu – Bab Buku – Menuju Gereja Orang Basudara (2017)

Lihat Penilaian Reviewer: Justitia Vox Dei Hattu – Peer Review – Bab Buku Menuju Gereja Orang Basudara

Pdt. Prof. Joas Adiprasetya, Th.D

joas 2Biodata Singkat:

Wakil Ketua IV: Bidang Relasi Publik

Pengampu MK: Teologi Konstruktif, Teologi Sistematika

Email: joas.adiprasetya@stftjakarta.ac.id

Profil Akademis:

Google Scholar

SINTA

SCOPUS

Untuk biodata lengkap klik di sini.

KARYA ILMIAH

1. “Following Jesus the Clown”

Dalam Jurnal: Theology Today, Vol. 69, No. 4, 2013. ISSN: 0040-5736. Sage & Princeton Theological Seminary. pp. 418-427.

Abstract: Based on the author’s autobiography of hyphenated identities, the article attempts to compare cross-culturally two clown figures: the Javanese Semar and the Christian Jesus. Both figures demonstrate that a clown must live in their total otherness, perform both social critique and solidarity, and take the risk to be a victim and healer. Finally, the church must become a community of clowns in order to be faithful to Jesus the Clown.

Keywords: clown, semar, Jesus, marginal, centrality, Javanese

Lihat Artikel Lengkap: Jurnal Theology Today – 2013

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Jurnal Theology Today 2013

Lihat Similarity Result: Following Jesus the Clown – Jurnal Theology Today – Uji Similarity

2. “Beyond Universality and Particularity: The Problem of the Human Rights Language in Liberation Theology”

Dalam Jurnal: Religion & Human Rights: An International Journal, Vol. 8, Issue 2, 2013. ISSN: 1871-031X. Martinus Nijhoff Publishers. pp. 163-171.

Abstract: This comment demonstrates the changes of attitude among liberation theologians toward human rights language, from avoidance, through critical confrontation, to appropriation. The reluctance appears as a natural consequence of the idea of partiality and preferentiality held by liberationists, which has always been critical of any claim of universality such as human right. The comment also argues that the latest phase of appropriation is made possible after liberationists employ the ecclesial idea of the ‘preferential option for the poor.’ However, the acceptance of human rights language can only be possible if we see the poor as concrete universal and understand the idea of the ‘preferential option for the poor’ as a middle axiom.

Keywords: liberation theology, human rights, universality, particularity, preferential option for the poor, Latin America, middle axiom

Lihat Artikel Lengkap: Jurnal Religion anda Human Rights – 2013

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Jurnal Religion and Human Rights 2013

Lihat Similarity Result: Beyond Universality and Particularity – Jurnal Religion and Human Rights – Uji Similarity

3. “Towards an Asian Multitextual Theology”

Dalam Jurnal: Exchange, Vol. 43, Issue 2, 2014. ISSN: 0166-2740. Brill. pp. 119-131.

Abstract: The article criticizes some shortcomings of Asian contextual and liberation theologies that methodologically employ ‘hermeneutical circle’. The method focuses on experience as the starting point of doing theology. Despite its powerful insights that enable theologians to engage with concrete human and social problems, the method can easily preserve a theologian’s blind spot that hinders her/him from perspectives other than his or her own. I also criticize such an experience-based method as being too linear which can easily result in a methodological imperialism. In response to the weakness, I propose a multitextual theology, which on the one hand acknowledges the importance of perspectivism in any theology but also, on the other hand, celebrates theological freedom in viewing reality from ‘manywheres’. Since reality provides plurality of texts, a multitextual theology can begin simultaneously from any text, without being trapped into a procedural rigidity as clearly demonstrated in contextual and liberation theologies.

Keywords: multitextual, contextual, Asian theology, hermeneutical circle, experience, perspectivism, manywheres

Lihat Artikel Lengkap: Jurnal Exchange – 2014

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Jurnal Exchange 2014

Lihat Similarity Result: Towards an Asian Multitextual Theology – Jurnal Exchange – Uji Similarity

4. “Johann Baptist Metz’s Memoria Passionis and the Possibility of Political Forgiveness”

Dalam Jurnal: Journal of Political Theology, Vol. 48, Issue 3, 2017. ISSN: 1462-317X. Taylor & Francis. pp. 233-248.

Abstract: The idea of memoria passionis promoted by Johann Baptist Metz provides a strong basis for correlating the Christian creed of the death and resurrection of Jesus Christ and our political engagement in atrocious situations. However, Metz’s idea of memory and remembering is not sufficient as we attempt to construct a just and peaceful society based on the Christian notion of forgiveness. This article attempts to make use of Metz’s memoria passionis, while at the same time proposing the necessity of political forgiveness as an intrinsic aspect of such a memorative faith. In such a proposal, forgiving and remembering must be two unavoidable and intertwined dimensions of memoria passionis Jesu Christi.

Keywords: Johann Baptist Metz, memoria passionis, forgiveness, remembering, dangerous memory

Lihat Artikel Lengkap: Jurnal Political Theology – 2017

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Jurnal Political Theology 2017

Lihat Similarity Result: Johann Baptist Metz’s Memoria Passionis – Jurnal Political Theology – Uji Similarity

5. “In Search of a Christian Public Theology in the Indonesian Context Today”

Dalam Jurnal: Diskursus (Jurnal Filsafat dan Teologi), Vol. 12, No. 1, April 2013. ISSN: 1412-3878. Pusat Penelitian Filsafat dan Teologi, STF Driyarkara. Hal. 103-124.

Abstract: This article deals with the contemporary task of Christian public theology in constructing a contextual model that is able to maintain the dialectic of commonality and particularity. Such a model must pay attention to the search for common ground among many cultural-religious identities, while at the same time it must respect those identities in their own paticularities. The sensitivity to and solidarity with the victims of the New Order’s’ regime must also be fundamental elements of such a model. To do so, this article discusses two competing theories in social philosophy (liberalism and communitarianism), and their parallel theories in theology (revisionism and post-liberalism). The necessity to construct a more balanced third way between those theories is needed, if Indonesian Christians want to be open to their social and political call and faithful to their Christian distinctiveness.

Keywords: Public theology, liberalism, communitarianism, revisionism, post-liberalism, commonality, particularity.

Lihat Artikel Lengkap: Jurnal Diskursus – 2013

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Jurnal Diskursus 2013

 6. Alasdair Macintyre and Martha Nussbaum on Virtue Ethics”

Dalam Jurnal: Diskursus (Jurnal Filsafat dan Teologi), Vol. 15, No. 1, April 2016. ISSN: 1412-3878. Pusat Penelitian Filsafat dan Teologi, STF Driyarkara. Hal. 1-22.

Abstract: Alasdair MacIntyre and Martha C. Nussbaum are two prominent contemporary moral philosophers who attempt to rehabilitate Aristotle’s conception of virtues. Although both agree that virtue ethics can be considered as a strong alternative to our search for commonalities in a pluralistic society such as Indonesia, each chooses a very different path. While MacIntyre interprets Aristotle from his traditionalist and communi-tarian perspective, Nussbaum construes the philosopher in a non-relative and essentialist point of view using the perspective of capability. Consequently, MacIntyre construes a more particularistic view of virtue ethics, whereas Nussbaum presents a more universalistic view of virtue ethics Applying virtue ethics to the Indonesian context, this article argues that each approach will be insufficient to address the highly pluralistic societies such as Indonesia. Therefore, we need to construct a virtue ethics proper to the Indonesian context that takes both approaches into consideration.

Keywords: Virtue, virtue ethics, community, capability, incommen-surability.

Lihat Artikel Lengkap: Jurnal Diskursus – 2016

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Jurnal Diskursus 2016

 

 7. “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup: Kemungkinan Kehadiran Kristus di dalam Agama-agama Lain”

Dalam Jurnal: Jurnal Amanat Agung, Vol. 10, No. 2, Desember 2014. ISSN: 2086-7611. Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung. Hal. 247-271.

Abstraksi: Artikel ini berusaha mengkonstruksi sebuah tafsir Trinitaris atas teks Yohanes 14:6 yang kerap dipandang sebagai “batu sandungan” bagi relasi Kristiani dengan agama-agama lain. Dengan menyadari ketidakmungkinan untuk meneruskan tipologi lama (eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme), penulis menghadirkan sebuah cara mendekati teks tersebut dari perspektif bapa-bapa gereja sekaligus mengkonstruksi serpihan teologi agama-agama yang diharapkan dapat menjembatani ketegangan antara komitmen Kristiani dan keterbukaan antar iman. Usaha tersebut hanya dapat berhasil jika kita mempergunakan perspektif Trinitaris untuk memahami teks tersebut.

Kata-kata kunci:  Yohanes 14:6, Trinitas, agama-agama, Kristologi, cosmic Christ, jalan, kebenaran, hidup, perichoresis

Lihat Artikel Lengkap: Jurnal Amanat Agung 2014

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Jurnal Amanat Agung 2014

 

8. Pemahaman Diri Kristiani di Tengah Kemajemukan Agama

Dalam Jurnal: Penuntun (Jurnal Teologi dan Gereja), Vol. 16, No. 27, 2015. ISSN: 0853-2672. KPT GKI Sinode Wilayah Jawa Barat. Hal. 109-115.

Abstraksi: Artikel ini membahas karakter utama dari dokumen Christian Self-Understanding dari Dewan Gereja-gereja Dunia (WCC) yang berbicara mengenai bagaimana orang-orang Kristen memahami dirinya sendiri dan apa yang mereka percayai setelah berjumpa dengan mereka yang berbeda iman. Penulis berargumentasi bahwa perjumpaan antariman mendorong orang-orang Kristen untuk menafsir ulang pemahaman iman mereka berdasarkan perjumpaan mereka dengan orang-orang berbeda iman. Kemudian artikel diakhiri dengan beberapa refleksi kritis bagi proses sejenis yang seharusnya terjadi pada level lokal di Indonesia.

Kata-kata kunci: Pemahaman-diri, antaragama, WCC, PGI, kemajemukan agama, oikoumenisme

Lihat Artikel Lengkap: Jurnal Penuntun – 2015

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Jurnal Penuntun 2015

 

9. Buku: Berdamai Dengan Salib : Membedah Ioanes Rakhmat dan Menyapa Umat

Buku: ISBN: 978-602-97012-0-3. Grafika Kreasindo dan UPI STT Jakarta.

Abstraksi: Buku ini merupakan respons atas pandangan Ioanes Rakhmat yang berargumen bahwa soteriologi salib dalam teologi Kristen pada dasarnya mendukung kekerasan dan karena itu harus sepenuhnya ditolak. Ioanes Rakhmat juga mengusulkan sebuah pemahaman mengenai kebangkitan Kristus yang tidak terjadi secara fisik. Argumen dasar yang diajukan di dalam buku ini adalah bahwa kekristenan memiliki khazanah teologis yang sangat kaya mengenai pendamaian atau soteriologi salib dan karena itu penolakan Ioanes Rakhmat hanya berlaku untuk sebagian kecil pandangan soteriologis dalam kekristenan. Akhirnya, buku ini menawarkan kepada umat Kristen sebagai pembaca utamanya bagaimana memahami salib dan pendamaian dalam semangat non-kekerasan.

Kata-kata Kunci: salib, soteriologi, pendamaian, kekerasan, kebangkitan

Lihat Artikel Lengkap: Buku Berdamai Dengan Salib – 2010

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Buku Berdamai Dengan Salib

 

 10. Buku: An Imaginative Glimpse: The Trinity and Multiple Religious Participants

Buku: ISBN: 978-1-62032-6992. Pickwick Publication.

Abstract: In contrast to the popular notion that the doctrine of the Trinity hinders Christians from engaging with the reality of religious diversity, this book argues that the doctrine is the best way of constructing contemporary theology of religions. An Imaginative Glimpse reexamines three prominent Trinitarian theologians of religions (Raimundo Panikkar, Gavin D’Costa, and S. Mark Heim) and proposes a fresh and creative model by bringing the classical idea of perichoresis to its present-day multifaith situation. Opening a new alternative in both Trinitarian theology and theology of religions, the approach of this book adds a distinctive contribution to the ongoing and challenging discussion in both fields. By using perichoresis imaginatively as a multidimensional category for multiple religious participations within the Trinity, the author of the book argues that the model is able to respect all religions on their own terms, while at the same time being faithful to the Christian standpoint.

Keywords: theology of religions, Trinity, multiple participations, perichoresis, Raimundo Panikkar, Gavin D’Costa, S. Mark Heim

Lihat Artikel Lengkap: Buku An Imaginative Glimple
Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Buku An Imaginative Glimpse

 

 11. “Dialog Antariman: Menyahabati Orang Asing dan Estetika Ketidaktahuan”

Dalam Buku: Perjalanan Semua Mendayung. ISBN: 978-602-1336-01-4. UPI STT Jakarta, tahun 2014. Hal. 135-143.

Abstraksi: Tulisan ini mengusulkan sebuah cara pandang baru terhadap dialog antariman dari perspektif hospitalitas atau keramahtamahan. Hospitalitas sebagai tindakan etis menyahabati orang asing dipahami sebagai tindakan awal yang mendahului dialog antariman. Lebih dari itu, keputusan menyahabati orang asing mengandaikan adanya kesadaran hadirnya orang asing di dalam diri kita masing-masing. Kesadaran ini memberi ruang kerendahhatian bagi setiap orang yang terlibat di dalam dialog antariman untuk tidak menguasai sang liyan. Seluruh pemahaman tersebut lebih jauh dilandasi oleh sebuah prinsip imajinatif yang disebut sebagai estetika ketidaktahuan (the esthetics of unknowing) yang meletakkan seluruh dialog antariman ke dalam basis Trinitarian. Seluruh gagasan ini lantas dibingkai di dalam percakapan metafisik mengenai kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

Kata-kata Kunci: dialog antariman, hospitalitas, orang asing, estetika ketidaktahuan, kebenaran-kebaikan-keindahan

Lihat Artikel Lengkap: Buku Perjalanan Semua Mendayung – 2014

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Bab Buku Perjalanan Semua Mendayung

 

12. “Teologi Konstruktif dan Wajah Sosial Agama”

Dalam Buku: Sosiologi Agama: Pilihan Berteologi di Indonesia. ISBN: 978-602-9182-38-5. Fak. Teologi Universitas Kristen Satya Wacana, tahun 2016. Hal. 249-269.

Abstraksi: Tulisan ini memaparkan perkembangan metodologis dari studi ajaran kristen, mulai dari dogmatika melalui teologi sistematika ke teologi konstruktif. Di masing-masing tahap terlihat bagaimana dimensi sosial tidak pernah raib sekalipun barulah pada tahap yang ketiga, yaitu teologi konstruktif, wajah sosial sungguh-sungguh diperhitungkan sebagai bagian integral. Kenyataan ini ditopang oleh munculnya teologi kontekstual yang memusatkan perhatian pada wajah sosial dan sosiologis dari agama yang ikut berperan besar dalam pengembangan teologi konstruktif. Namun demikian diajukan pula kritik mendasar atas metodologi teologi kontekstual yang kerap tidak disadari oleh banyak teolog. Akhirnya, sebuah telaah teologis-sosial atas tema Pendamaian (atonement) menjadi sebuah contoh kasus bagaimana teologi konstruktif berusaha mendialogkan tradisi Kristiani dengan konteks sosial kontemporer.

Kata-kata Kunci: dogmatika, sistematika, konstruktif, kontekstual, pendamaian

Lihat Artikel Lengkap: Bab Buku Sosiologi Agama – 2016

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Bab Buku Sosiologi Agama

 

 13. “Tatapan Teologi-Trinitaris atas Makna Pribadi dalam Relasi dan Komunitas”

Prosiding: Berteologi dalam Konteks: Meretas Jalan Menuju Perdamaian, Keadilan, dan Keutuhan Ciptaan. ISBN: 978-979-8558-11-5. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, tahun 2012. Hal. 51-60.

Abstraksi: Artikel ini menawarkan sebuah perspektif Trinitaris dalam memahami makna “pribadi” (person) dalam teologi Kristen. Telaah Trinitaris atas pribadi memaknai ulang konsep gambar Allah yang berpusat pada Kristus sebagai gambar Allah, yang di dalam-Nya manusia diciptakan. Dalam perspektif tersebutlah ditemukan prinsip-prinsip eklesial berupa partisipasi dan koinonia, sebagai tercermin di dalam banyak dokumen oikoumenis. Tulisan diakhiri dengan beberapa implikasi eklesial, etis, dan sosial dari konsep pribadi yang Trinitaris dan partisipatif tersebut.

Kata-kata Kunci: pribadi, trinitas, gambar Allah, partisipasi, relasi

Lihat Artikel Lengkap: Prosiding Berteologi Dalam Konteks – Meretas Jalan Menuju Perdamaian, Keadilan, dan Keutuhan Ciptaan 2012

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Prosiding Berteologi dalam Konteks: Meretas Jalan Menuju Perdamaian 2012

 

 14. “Kekristenan Indonesia: Masa Kini dan Masa Depan”

Prosiding: Firman Allah untuk Semua. ISBN: 978-979-463-158-4. Lembaga Alkitab Indonesia, tahun 2012. Hal. 15-24.

Abstraksi: Tulisan ini menelaah kemungkinan untuk menemukan model kehadiran Kristen (Christian presence) untuk masa depan bangsa Indonesia. Dengan mempergunakan model yang diusulkan oleh James Davison Hunter, penulis memaparkan tiga model yang gagal memberi dasar bagi kehadiran Kristen, yaitu relevance-to, purity-from, dan defence-against. Dengan tetap mengikuti pendapat Hunter, diusulkan model keempat yang disebut faithful-presence, yang lebih cocok bagi kehadiran Kristen masa depan. Model ini dilihat mampu menjawab dua masalah dari kekristenan Indonesia, sebagaimana dinyatakan oleh Eka Darmaputera, yaitu “irelevansi eksternal” dan “insignifikansi internal.“ Atas dasar itu ditawarkan beberapa pemikiran praktis bagi penemuan model kehadiran Kristen di masa depan.

Kata-kata Kunci: kehadiran Kristen, masa depan, relevance-to, purity-from, defence-against, faithful-presence, irelevansi eksternal, insignifikansi internal

Lihat Artikel Lengkap: Prosiding Firman Allah Untuk Semua – 2012

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Prosiding Firman Allah Untuk Semua 2012

15. “Trancending Pluralism, Celebrating Friendship”

Prosiding: ASEAN Religious Pluralism: The Challenge of Building a Socio-Cultural Community. ISBN: 978-616-90475-4-4. Konrad Adenauer Stiftung Bangkok, tahun 2014. Hal. 30-44.

Abstract: The usage of classical typology of exclusivism, inclusivism, and pluralism has failed to pay respect to the real diversity of religious traditions as well as religious attitudes toward such diversity. The so-called pluralism within the typology has also been unsuccessful to maintain the otherness of each religious tradition. The paper suggest a kind of perspectivism, using the thought of Raimundo Panikkar, which transcends pluralism by keeping the dialectics between one’s commitment to one’s tradition and one’s openness to other religions. Moreoever, the dialectics is also best demonstrated through the ideas and practices of interreligious friendship and hospitality.

Keywords: typology, pluralism, interreligious, friendship, hospitality

Lihat Artikel Lengkap: Prosiding ASEAN Religious Pluralism – 2014 – New

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Prosiding ASEAN Religious Pluralism 2014

Lihat Similarity Result: Transcending Pluralism, Celebrating Friendship – Uji Similarity

16. “Teologi Feminis: Suatu Perspektif Laki-laki”

Prosiding: Mengevaluasi Arah dan Karakter Teologi Feminis Kristen di Indonesia. ISBN: 978-979-3130-14-9. Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA), tahun 2015. Hal. 19-36.

Abstraksi: Teologi Feminis sebagai sebuah kajian akademis perlu menjadi perspektif yang mewarnai pendidikan teologis secara keseluruhan dan bukan hanya tersegmentasi pada beberapa matakuliah saja, sebagaimana yang sering kali muncul di banyak lembaga pendidikan teologi di Indonesia. Selain itu, perkembangan teologi feminis sedikit-banyak ditentukan pula oleh sumbangan teologis dari laki-laki, sehingga percakapan ini tidak didominasi hanya oleh perempuan teolog belaka. Pentingnya sumbangan laki-laki bagi perkembangan teologi feminis dilandasi kesadaran pada titik-buta atau perspektivisme sebagai keniscayaan semua ilmu. Atas dasar itu, diusulkan beberapa model metodologis yang muncul dari perspektif laki-laki, yaitu pentingnya kartografi teologi berdimensi kebenaran, bricolage etis, serta transversalitas estetik.

Kata-kata Kunci: feminisme, titik-buta, perspektivisme, kartografi, bricolage, transversalitas

Lihat Artikel Lengkap: Prosiding Mengevaluasi Arah dan Karakter Teologi Feminis Kristen di Indonesia – 2015

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Prosiding Mengevaluasi Arah dan Karakter Teologi Feminis 2015

 

 17. “From the World House to an Oikopoetic Interreligious Imagination”

Prosiding: Living Together in the Household of God – Asian Reflection. ISBN: 978-962-7439-61-5. Christian Conference of Asia, tahun 2015. Hal. 111-119.

Abstract: In face of interreligious enmity, the ideal virtue of interreligious friendship needs further reflection as to how Christians engage with the religious others. This article addresses such a need with a reflection on the story of Stephen in Acts 6-7 using several paronyms of oikos such as paroikos, metoikos, and katoikos. The story is then reread using the interreligious oikopetics proposed by Nirmal Selvamony, which suggests that there are three ways of seeing the oikos: integrative, hierahic, and anarchic. The conclusion is that the global vision of God’s inclusive oikos should be non-hierarchical and integrative in order for the church as a community of sojourners or pilgrims to reject the anarchic sense of oikos.

Keywords: story of Stephen, Acts 6-7, oikos, interreligious oikopetics, pilgrim

Lihat Artikel Lengkap: Prosiding CCA – 2015 – New

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Prosiding From the World House to an Oikopoetic Interreligious Imagination

 Lihat Similarity Result: From the World House to an Oikopoetic Interreligious Imagination – Uji Similarity

18. “The Trinitarian and the Public Space”

Prosiding: Interactive Pluralism in Asia. ISBN: 978-3-374-04537-2. The Lutheran World Federation, tahun 2016. Hal. 33-42.

Abstract: The emergence of Trinitarian theologies of religions has successfully provided an alternative to the classical typology of exclusivism, inclusivism, and pluralism. However, most theologies of religions that employ the Trinitarian perspective seem to fail to relate the “abstract” theological concept of the Triune God to the “concrete” interfaith conversation in the public sphere. The author suggests that the idea of Trinitarian perichoresis is the best way of dealing with the metaphysical problem of the one and the many as well as the social problem of interfaith relationship in public space. The divine space in the Trinitarian communion becomes the model for Christians to engage with public space insofar as both are connected using the theological idea of participation. Such an idea of participation (methexis) enables us to think of diverse religious traditions as multiple participations into Trinitarian communion. The article is concluded with an imaginative proposal of implementing “multiple religious participations” into the public spheres.

Keywords: trinity, theology of religions, participations, public space, interfaith

Lihat Artikel Lengkap: Prosiding Interactive Pluralism in Asia – 2016 – New

Lihat Penilaian Reviewer: Peer Review Prosiding Interactive Pluralism in Asia 2016

Lihat Similarity Result: The Trinitarian Space and Public Space – Uji Similarity

19. “Pastor as a Friend: Reinterpreting Christian Leadership”

Dalam Jurnal: Dialog: A Journal of Theology, Vol. 57, No. 1, March 2018. ISSN: 0012-2033. Penerbit: Wiley. pp. 47-52.

Abstraksi: Christian leadership has long enjoyed the idea of servant-leadership or doularchy that has been seen as standing against any form of kyriarchy. This article is an attempt to solve the problems left by doularchy and construct a model of philiarchic leadership based on the identity of pastors as friends. Several texts in the Gospel of John will be reinterpreted using the philiarchic lens. The article concludes with three applied ideas that today’s Christian leaders should take into consideration

Kata-kata Kunci: doularchy, friendship, kyriarchy, leadership, philiarchy, the Gospel of John

Lihat Artikel Lengkap: Joas Adiprasetya – Jurnal Dialog Maret 2018

Lihat Penilaian Reviewer: Joas Adiprasetya – Peer Review Jurnal Dialog

Lihat Similarity Result: Pastor as Friend – Jurnal Theology Update – Uji Similarity

20. “Reading the Books of Life: A Prophetic-Protreptic-Proleptic Model of Social Engagement

Prosiding: Mending the World? Possibilities and Obstacles for Religion, Church, and Theology
Penerbit: Church of Sweden Research Series Vol. 14. ISBN: 978-1-5326-1064-6, Pickwick Publications, pp. 425-435.

Abstraksi: This chapter is an  attempt  to propose a new model of ecclesial presence that combines the prophetic, protreptic, and proleptic dimensions of Christian social engagement. Using the example of a Christian NGO named Taman Bacaan Masyarakat (TBM) or Community Reading Garden, I argue that their social work among religiously harsh areas in West Java, Indonesia, is best seen as the actual presence of the Church beyond its institutional structure. Such an idea of Christian and ecclesial presence in a non-institutional mode needs to be understood theologically. To do so, I propose an imaginative construction of Christian presence by employing several theories, such as James D. Hunter’s faithful presence model and Leonard Sweet’s DNA model of the church. The final reflection will draw on inspiration from Hans Urs von Balthasar’s theodramatic idea.

Kata-kata Kunci: prophetic, protreptic, proleptic, imaginative construction, ecclesial, christian

Lihat Artikel Lengkap: Prosiding Mending the World – 2017 – New

Lihat Penilaian Reviewer: Joas Adiprasetya – Peer Review Prosiding Mending The World

Lihat Similarity Result: Reading the Books of Life – Uji Similarity

21. The Good yet Missing Innkeeper and the Possibility of Open Ecclesiology

Dalam Jurnal: Ecclesiology, Vol. 14, No. 2, 2018. ISSN: 1744-1366. Brill. pp. 185-202.

Abstraksi: This article discusses the significant roles of the innkeeper and the inn (pandocheion) in the parable of the Good Samaritan and how contemporary Christians can use the story to construct an open ecclesiology in the midst of global fear of others. The idea of open ecclesiology requires a rethinking of the classical marks of the church as one, holy, catholic, and apostolic in the light of the new marks: diverse, vulnerable, concrete, and friendly. By tracing the root of pondok in Indonesian language back to the Arabic word funduq and the Greek word pandocheion in the Gospel of Luke, the author demonstrates rich intercultural and interreligious negotiations that encourage Indonesian Christians to reclaim their heritage from their Muslim counterparts. The article concludes with the story of GKI Yasmin as a diaclesial and open church that passes-through or crosses-over boundaries amidst violence.

Kata-kata Kunci: pluralism, good samaritan, otherness, Indonesia, Islam, ecclesiology, hospitality, pandocheion

Lihat Artikel Lengkap: Joas Adiprasetya -The Good yet Missing Inkeeper

Lihat Penilaian Reviewer: Joas Adiprasetya – Peer Review Jurnal Ecclesiology

Lihat Similarity Result: The Good yet Missing Innkeeper – Jurnal Ecclesiology – Uji Similarity

22. God in the Crucified PeopleTheologia Crucis in Martin Luther and Kosuke Koyama

Dalam Jurnal: Journal of Reformed Theology, Vol. 12, 2018. ISSN: 1872-5163. Brill. pp. 284-295.

Abstraksi: This article examines Martin Luther’s theology of the cross (theologia crucis) and its implications for the Asian struggle for humanity. It is argued that, although Luther’s influence on many Asian theologians is significant, his inconsistent position with regard to sociopolitical issues requires Asian theologians to reinterpret their own theologies of the cross beyond Luther’s initial position. Moreover, the article explores Kosuke Koyama’s appropriation of Luther’s theologia crucis in the Asian context by imaginatively constructing his own theology of the cross that critically addresses Asian sociopolitical realities.

Kata-kata Kunci: Martin Luther, Kosuke Koyama, theology of the cross, theologia crucis, Asia

Lihat Artikel Lengkap: Joas Adiprasetya – God in the Crucified People – 2018

Lihat Penilaian Reviewer: Joas Adiprasetya – Peer Review – God in the Crucified People – 2018

Lihat Similarity Result: God in the Crucified People – Journal of Reformed Theology – Uji Similarity

23. The Liturgy of the in-between

Dalam Jurnal: Scottish Journal of Theology, Vol. 72, No. 1, 2019. ISSN: 0036-9306. Cambridge University Press. pp. 82-97.

Abstraksi: By using the idea of theology as symbolic engagement, I propose the ‘in-between’ as a liturgical category that engages with multiple tensions in Christian theology. The concept of the in-between becomes the primary lens through which to analyse not only the relationship between ecclesial and social liturgies, but also the interstices between the two. I then apply the concept to construct theological imagination in the ministries of ushering, intercessory prayer and the sending. The article concludes with a story of the worship of the GKI Yasmin church in front of the presidential palace in Indonesia, which demonstrates the prophetic dimension of the in-between.

Kata-kata Kunci: in-between, intercession, metaxy, sending, ushering, GKI Yasmin

Lihat Artikel: Scottish Jurnal of Theology-Joas Adiprasetya

Lihat Penilaian Reviewer: Joas Adiprasetya – Lembar Peer Review Scottish Journal of Theology 2019

Lihat Similarity Result: Joas Adiprasetya – Uji Similarity – Scottish Journal of Theology 2019

24. A Compassionate Space-making Toward a Trinitarian Theology of Friendship

Dalam Jurnal: The Ecumenical Review, Vol. 71, No. 1-2, 2019. ISSN: 0013-0796. Wiley. pp. 21-31.

Abstraksi: Using the lens of trinitarian theology of friendship, this article discusses the idea of compassionate space-making. By showing the primacy of friendly love (philia) over agapeic love, it argues that the idea of trinitarian friendship can offer a creative and imaginative way for constructing a theology of friendship in the communal and broader social contexts. The article then presents five marks of theology of friendship that enable Christians to participate in this trinitarian friendship by making space for and befriending others: vulnerability, unpredictability, reimagination, propheticity, and compassion. The article concludes with a practical spiritual exercise which exemplifies this trinitarian tbeology of friendship.

Kata-kata Kunci: Trinity, friendship, compassion, space-making, vulnerability, unpredictability reimagination, propheticity.

Lihat Artikel: The Ecumenical Review-Joas Adiprasetya resize

Lihat Penilaian Reviewer: Joas Adiprasetya – Lembar Peer Review Ecumenical Review 2019

Lihat Similarity Result:Joas Adiprasetya – Uji Similarity – Ecumenical Review 2019

25. “Teologi Bagi dan dalam Konteks GKI, Semua Orang Kristen adalah Teolog”

Dalam Buku: 150 Tahun Pekabaran Injil Patekoan: Dari Gereja Tionghoa ke Gereja Kristen Indonesia. ISBN: 978-602-231-490-5. BPK Gunung Mulia, tahun 2018. Hal. 157-166.

Abstraksi: Salah satu pemahaman popular yang paling kerap saya jumpai di kalangan umat adalah pemahaman bahwa teologi adalah urusan para teolog akademis di sekolah teologi atau para pendeta yang penuh-waktu bekerja di lingkup gereja. Teologi bukan urusan warga jemaat. Akan tetapi pemahaman tersebut tidak dapat penulis setujui, karena teologi bukanlah sekadar sebuah disiplin ilmiah yang harus akademis. Tentu saja, teologi akademis perlu dan penting. Namun, teologi yang penulis maksudkan dalam tulisan ini bukan pertama-tama dalam pengertian itu. Dalam tulisan ini dibahas beberapa pandangan tentang teologi, bagaimana gereja dapat berteologi dan berdampak bagi perkembangan gereja, khususnya di dalam konteks GKI.

Kata-kata Kunci: Teologi, Berteologi, GKI, Konfesi GKI, GKI Samanhudi

Lihat Artikel Lengkap: Bab Buku 150 Tahun Pekabaran Injil Patekoan-Joas Adiprasetya

Pdt. Prof. Jan S. Aritonang, Ph.D

aritonang-fotoBiodata Singkat:

Kepala Pusat Dokumentasi Sejarah Gereja-gereja di Indonesia.
Pengampu MK: Sejarah Gereja Asia, Sejarah Perjumpaan Kristen & Islam, Sejarah Gereja di Indonesia I dan II.
Email: jan.aritonang@stftjakarta.ac.id

Profil Akademis:

Google Scholar

SINTA

SCOPUS

Untuk biodata lengkap klik di sini.

KARYA ILMIAH

1. Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (BPK Gunung Mulia, 2004),

2. Gereja di Abad 21 – 50 Tahun PGI (Litbang PGI, 2000),

3. Tahun Yobel Itu Haruslah Kudus Bagimu! – 50 Tahun BPK Gunung Mulia (BPK Gunung Mulia, 1996),

4. Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar Gereja (BPK Gunung Mulia, 1995),

5. Mission Schools in Batak land – Indonesia. (Leiden: E.J. Brill, 1994),

6. Apa dan Bagaimana Gereja? (BPK Gunung Mulia, 1989),

7. Sejarah Pendidikan Kristen di Tanah Batak (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988).

8.  Sejarah Pertumbuhan Gerakan Pentakostal di Indonesia

Dalam Jurnal: Gema Teologi; Vol 35 No 1/2 – Agustus 2012, ISSN: 0053-4500, Penerbit: Universitas Kristen Duta Wacana

Abstract: Pentecostal movement, then implanted and established in a number of Pentecostal churches, arrived in Indonesia since early 1920s. It is characterized among others by baptism in the Holy Spirit which is expressed in speaking in tongues, but also by schisms. In spite of so many schisms and new church organizations, they also show a spectacular growth in quantity of members. This growth increase more significantly when the Charismatic movement, which is also called Neo-Pentecostalism, comes into being and penetrates almost all main-lineor traditional churches. Its theology of success or theology of prosperity attracted a lot of Christians to join their communities and fellowships. No wonder if this twin movement (Pentecostal and Charismatic) is forecasted to become the first power among Christianity in the future.

Keywords: Pentakostal, Kharismatik, Roh Kudus, bahasa lidah  (glossolalia), penyembuhan ilahi, skisma, Injili, Teologi Sukses.

Lihat Artikel: Sejarah Pertumbuhan Gerakan Pentakostal di Indonesia – 2012

9. Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja

Keterangan Buku: 2016. Jakarta: BPK Gunung Mulia. ISBN: 978-602-73623-1-4, pp: 59-71.

Abstraksi: Sejak reformasi pada abad ke-16, gereja-gereja Protestan mengenal dan terbagi ke dalam berbagai aliran. Kepelbagaian itu semakin subur dan kompleks di sepanjang sejarahnya hingga abad ke-21 karena kemajemukan konteks kehadiran gereja dan banyaknya faktor teologis maupun bukan teologis yang ikut berperan.

Di Indonesia saja, setelah gereja-gereja Protestan hadir lebih dari 400 tahun, ada sekitar 350 organisasi gereja plus 400-an organisasi gerejawi yang bernaung di bawah nama yayasan. Masing-masing menganut satu atau lebih aliran tertentu yang sebagian besar berasal dari Eropa maupun Amerika. Kenyataan ini memperhadapkan setiap gereja pada pertanyaan dan pergumulan mendasar: sudah sejauh mana ia menjadi bagian integral dan autentik dari sejarah dan keberadaan bangsanya?

Buku ini tidak hendak menjawab pertanyaan itu, tetapi dengan menggunakan metode fenomenologis-historis mendeskripsikan seluk-beluk 17 aliran yang ada di dalam dan di sekitar gereja-gereja Kristen Protestan sedunia, sejauh sudah hadir di Indonesia, mulai dari yang paling dekat dengan ajaran para reformator, sampai yang sangat jauh (namun sebagian besar masih mengaku Kristen). Dengan deskripsi ini diharapkan setiap gereja atau kelompok keagamaan yang mengaku sebagai gereja makin memahami dirinya dan terdorong untuk menjawab pertanyaan di atas.

Kata-kata kunci: Lutheran, Calvinis, Anglican, Mennonit, Baptis, Metodis, Pentakostal, Kharismatik, Injili, Bala Keselamatan, Adventis, Saksi-saksi Jehuwa, Mormon, Christian Science, Scientology, Gerakan Zaman Baru, Satanisme

Lihat Artikel: JSA – Buku Berbagai Aliran Di Dalam dan Di Sekitar Gereja

10. GOD’S MISSION TO THE MARGINALIZED IN INDONESIA

Dalam Jurnal: Mission Sparks (Academic Journal of Asia Region); No. 1 – Juni 2016, ISSN: 2527-9890, Penerbit: United Evangelical Mission

Abstract: In Indonesia there are many people being marginalized. This paper or contribution only discusses three categories, i.e. labor, disabled and LGBTIQ. The portrait of these three categories includes government’s policy, laws and regulations concerning them. After describing each category and telling what the government, churches, and Christian organizations said and do upon them, the paper ends with theological reflection that emphasizes God’s mission through diakonia of the church to the marginalized. This closing remarks and reflection also quotes WCC’s statements in some documents as well as UEM’s documents as were presented in UEM’s conference in Stellenbosch, South Africa, in November 2014, under a theme, “Inclusive Communities and the Church”.

Keywords: marginalized, labor, disabled, LGBTIQ, God’s mission, theology of disability, diakonia, WCC, LWF, UEM.

Lihat Artikel: Jurnal Mission Spark Edisi Juni 2016 – God’s Mission to the Marginalized in Indonesia (1)

11.  INJILI TIDAK MESTI KONSERVATIFPerkembangan Upaya Berteologi Kalangan Injili dalam Beberapa Dasawarsa Terakhir

Artikel dalam buku: Berteologi bagi Sesama (Festschrift untuk Pdt. Lotnatigor Sihombing M.Th.), Agustus 2016, ISBN: 978-602-74922-0-2, Penerbit: STT Amanat agung

 Abstrak Artikel:  Sejarah gerakan dan aliran Injili (Evangelical) sudah dimulai sejak akhir abad ke-18, namun mencapai puncak perkembangannya pada abad ke-20. Bahkan pada medio abad ke-20 muncul gerakan/aliran neo evangelical. Namun kepada aliran ini – yang lama maupun yang baru – dilekatkan juga istilah conservative, sehingga dikenallah idiom Conservative-Evangelical atau Injili-Konservatif. Aliran Injili – kendati dekat dengan Fundamentalisme – tidak identik; ada perbedaan mendasar di antara keduanya.

Karena istilah Conservative-Evangelical mengandung konotasi negatif, maka dalam beberapa dasawarsa terakhir terjadi transisi dan munculnya beberapa gerakan atau varian baru di kalangan Injili, terutama di AS, serta sejumlah teolog baru. Di dalam varian baru itu tercakup a.l. Evangelical Left, Evangelicals for Social Action (ESA), dan Younger Evang-elicals. Ketiga varian inilah – yang muncul sejak 1960-an – yang dikaji dalam tulisan ini.

Tulisan ini diakhiri dengan harapan dan dorongan agar para teolog Injili di Indonesia untuk terus mengembangkan teologi, mengingat bahwa teologi adalah sebuah ilmu, kendati prinsip-prinsip dan metodologinya tidak sama dengan ilmu-ilmu lain.

Kata-kata kunci (keywords): Injili, konservatif, Evangelical Left, Evangelicals for Social Action, Younger Evangelicals, religious right, Evangelical Right.

Lihat Artikel: Buku Berteologi Bagi Sesama – Injili Tidak Mesti Konservatif (1)

12. The Reformation and Its Relevance for Education in Indonesia

Dalam Jurnal: Mission Sparks (Academic Journal of Asia Region); Edisi ke-2 – Desember 2016, ISSN: 2527-9890, Penerbit: United Evangelical Mission

Abstract: Education – general as well as special i.e. religious education – Is actually not a main concern of the sixteenth century church reformers. They paid more attention to Church doctrine and praxis that directly implemented from the doctrine. Nevertheless, they were also aware that education is an integral part of the reformation of the Church and society. The reformatory churches that emerged from the Reformation movements had also conviction that they were called to equip their members with basic knowledge and skills which enable them to read and write that they were able to read the Bible in their own language. As observed by some Christian education experts, Luther and other reformers’ teaching also contained some important ideas and principles concerning education and they in turn also influenced the Christian education generally.

This article will focus on Martin Luther (1483-1546), Philip Melanchthon (1497-1560), John Calvin (1509-1564) and August H. Francke (1663-1727)2, although here and there will also be connected to some other figures and Christian communities, including those involved in education. By so doing, we will simultaneously try to see their contribution and influence in Christian education, including in Indonesia up to now. We include Francke, an important figure of Pietism, since he was a sort of bridge between the reformers and the missionaries who also endeavored education based on the reformers and the Pietism’s concept.

Lihat Artikel: The Reformation and Its Relevance for Education in Indonesia – Jan Sihar Aritonang

13. KONTEKSTUALISASI INJIL DI TANAH PASUNDAN

Dalam Buku: Percikan-percikan Sejarah Gereja Kristen Jemaat Depok. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017. ISBN: 978-602-231-396-0

Abstrak Artikel: Upaya pekabaran Injil di Tanah Pasudan, dengan memperhatikan konteksi sosial-budaya, politik, dan agama, sudah dimulai sejak paruh abad ke-19. Kadar upaya kontekstualisasi itu tidak sama di kalangan para penginjil. Lagipula kontekstualisasi – baik sebagai istilah maupun sebagai wawasan – belum dikenal pada awal penginjilan di Tanah Pasundan. Setelah Gereja Kristen Pasundan (GKP) mandiri tahun 1934, upaya itu meningkat seiring dengan semakin kompleksnya konteks yang dihadapinya. Tulisan ini pertama-tama akan menggambarkan upaya kontekstualisasi pada masa zending atau prakemandirian GKP. Setelah itu akan dicoba dipaparkan berbagai upaya setelah GKP mandiri, terutama ketika berhadapan dengan konteks masyarakat dan budaya Sunda yang didominasi Islam. Pada bagian terakhir akan disampaikan catatan dan saran untuk ditimbang oleh GKP, termasuk jemaat Depok, untuk melanjutkan dan meningkatkan upaya kontekstualisasi itu, sambil mengemukakan beberapa model kontekstualisasi.

Kata-kata kunci (keywords): kontekstualisasi, Pasundan, Penginjil, zending.

Lihat Artikel: Kontekstualisasi Injil di Tanah Pasundan

14. SPIRITUALITAS MARTIN LUTHER”

Dalam Buku: Spiritualitas dari Berbagai Tradisi. Jogyakarta: Kanisius, 2017. ISBN: 978-979-21-5452-8

Abstrak Artikel: Dalam kajian atas Martin Luther, termasuk legacy-nya, tidak banyak tulisan yang memuat kajian atas spiritualitas yang Luther perlihatkan melalui kiprah dan tulisan-tulisannya. Mungkin topik ini dianggap kurang penting dibanding dengan ajaran, eklesiologi, etika dan moral, dan peribadahan. Kemungkinan lain, spiritualitas dipahami dipahami dan diungkapkan dengan berbagai istilah lain, misalnya semangat, kesalehan, dan kehidupan rohani. Kalau kemudian ada pengamat atau penulis menggunakan istilah “Spiritualitas Luther” atau menerapkan istilah spiritualitas pada Luther, itu agaknya adalah pemahaman atau penafsiran mereka atas apa yang Luther katakan dan lakukan.

Acuan utama artikel ini adalah buku yang disunting Philip D.W. Krey & Peter D.S. Krey, Luther’s Spirituality (2007), yang memuat terjemahan dari sejumlah tulisan Luther, dan artikel Jane E. Strohl, Luther’s Spiritual Journey (2003). Sebelum membahas Spiritualitas Luther, lebih dulu dikemukakan secara singkat apa yang dimaksud dengan spiritualitas, terutama Spiritualitas Kristiani. Untuk itu diacu beberapa tulisan, terutama disertasi Simon Rachmadi, Reformed Spirituality in Java (2017), yang mengikhtisarkan sejumlah tulian mengenai spiritualitas.

Dengan segala keterbatasan itu, kiranya artikel ini-bersama artikel-artikel lain dalam buku ini-mendorong kajian yang lebih mendalam dan lengkap atas spiritualitas pada umumnya dan spiritualitas para reformator pada khususnya, ketika kita merayakan 500 tahun Reformasi. Lebih dari itu, kiranya buku ini membangkitkan minat banyak orang-semoga tidak hanya yang Kristen-untuk menghayati dan mempraktikkan spiritualitas dalam kehidupan nyata sehari-hari; jadi tidak hanya mengkajinya secara teoretis sebagai bagian dari sebuah ilmu yang bernama teologi.

Kata-kata kunci (keywords): spiritualitas, reformasi, Martin Luther.

Lihat Artikel: Spiritualitas Martin Luther

15. “Dampak Reformasi Terhadap Perpecahan Gereja dan Maknanya bagi Upaya Penyatuan Gereja

Dalam Jurnal: Jurnal Ledalero. , Vol. 16 No. 2, Desember 2017, ISSN: 1421-5420, Penerbit: Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, pp. 204-225.

Abstract: There are at least two general impressions about Church Reform that took place 500 years ago, namely (1) the Reformation sought – and to some extent succeeded – in renewing the doctrine and life of the Church; and (2) the Reformation caused divisions within the Church. This article will examine whether and to what extent these two impressions are correct, and what impact and significance this is for the Church today, especially in Indonesia. To discuss these issues thoroughly, we certainly need more deep and detailed research. This paper is limited to several aspects and examples, while including several other points .

Keywords: reformation, Church, theology, controversy of theology, base color, ecumenical, ecumenical movement.

Abstrak Artikel: Sekurang-kurangnya ada dua kesan umum tentang Reformasi Gereja yang terjadi sejak 500 tahun yang lalu, yaitu (1) Reformasi itu berupaya – dan pada batas tertentu berhasil – membarui ajaran dan kehidupan gereja; dan (2) Reformasi itu menimbulkan perpecahan di dalam Gereja. Artikel ini akan mengkaji apakah dan sejauh mana kedua kesan itu benar, serta apa dampak dan maknanya bagi Gereja pada masa kini, khususnya di Indonesia. Untuk membahasnya secara tuntas, tentu dibutuhkan penelitian dan penulisan yang mendalam, panjang, dan rinci. Tulisan ini terbatas pada beberapa aspek dan contoh, sembari dikaitkan dengan beberapa aspek lain.

Kata-kata kunci: reformation, Gereja, teologi, kontroversi teologi, warna dasar, ekumene, gerakan ekumene.

Lihat Artikel: Dampak Reformasi Terhadap Perpecahan Gereja – Jurnal Ledalero

16. “Christians in Indonesia

Dalam Buku: Routledge Handbook of Contemporary Indonesia. New York: Routledge, 2018., ISBN: 978-1-138-64442-7, pp. 257-266.

Abstract: There are numerous important issues and developments concerning Christianity and Christians in Indonesia during the so-called Reformation Era, from May 1998 to today. This Chapter focuses on three issues: denominational and organizational development, interfaith-relations, and political and economic life.

Keywords: denominational and organizational development, interfaith relations, political and economical life .

Lihat Artikel: Routledge Handbook of Contemporary Indonesia

17. “Memberi dari Kekurangannya, Semua yang Dimilikinya: Analisis Hubungan Penyembahan dan Persembahan di dalam Sejarah GKPI

Dalam Buku: Hidup Dalam Komunitas Penyembahan-Persembahan. Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2018., ISBN: 978-602-1006-46-7, Hal. 268-276.

Abstract: Dari pengamatan sepintas, sebenarnya tidak ada perbedaan mendasar antara pemahaman GKPI dan gereja-gereja lain tentang penyembahan  dan persembahan. Seperti kita baca pada Kisah Para Rasul maupun pada beberapa surat para rasul yang dimuat di Perjanjian Baru, jemaat-jemaat Kristen sejak berdiri telah biasa melakukan penyembahan (devosi, pemujaan, peribadahan) maupun memberi persembahan. Kebiasaan itu, termasuk memadukan penyembahan dengan persembahan, berakar pada Perjanjian Lama dan dilanjutkan oleh gereja-gereja Kristen pada umumnya sampai sekarang, walaupun istilahnya ataupun frekuensinya bisa berbeda-beda.

Tulisan kecil ini tidak akan membahas seluk beluk penyembahan dan persembahan di dalam Alkitab (PL maupun PB), karena sudah ada sejumlah penulis dan tulisan lain yang mengkajinya. Di samping itu di majalah Suara GKPI edisi Oktober dan November 2014 telah dimuat juga dua buah tulisan yang membahas secara lengkap seluk beluk penyembahan dan persembahan di dalam Alkitab dan di dalam konteks globalisasi. Juga tidak akan dibahas seluk beluk penyembahan dan persembahan di dalam Sejarah Gereja Umum, karena sudah diminta beberapa penulis yang mengkaji hal ini di lingkungan Reformasi (Luther dan Calvin), Metodis, dan Ortodoks.

Kajian teologis, terutama tentang persembahan, yang bersifat teoritis maupun praktis, yang sudah dihasilkan sejumlah penulis, juga tidak akan diulangi. Tulisan ini hanya akan mengkaji pemahaman dan praksis GKPI di dalam 50 tahun sejarahnya atas penyembahan dan persembahan, termasuk latar belakangnya di lingkungan masyarakat Batak Pra Kristen. Itupun pasti tidak lengkap, karena keterbatasan sumber tertulis. Dalam rangka penelusuran atas topik ini , akan dilihat juga sejenak situasi bermasyarakat dan bergereja, khususnya di tanah Batak dan HKBP hingga 1960-an, yang menjadi latar  belakang dan konteks pemahaman dan praksis GKPI tentang dua hal itu.

Keywords: Penyembahan, Persembahan, Sejarah, GKPI.

Lihat Artikel: Jan Sihar Aritonang – Bab Buku Hidup Dalam Komunitas 2018

18. “Menetapkan Tanggal Lahir (Hari Jadi) Gereja – Bagaimana?

Dalam Buku: Jelajah Sejarah Meraup Makna. Satya Wacana University Press, 2019., ISBN: 978-602-5881-29-9, Hal. 1-10.

Abstract: Tulisan ini menjelaskan tentang seluk-beluk penetapan tanggal lahir gereja dan lembaga-lembaga gerejawi, mulai dari melihat apa yang terdapat di Alkitab, dilanjutkan dengan beberapa catatan tentang cara dan kesepakatan sejumlah gereja. Secara khusus didalami seluk beluk tanggal lahir dari sebuah gereja, untuk melihat betapa soal ini sering kali cukup rumit.

Keywords: Gereja, Sejarah, Hari Jadi, tanggal lahir, penetapan, sejarah gereja.

Lihat Artikel: Buku Jelajah Sejarah Meraup Makna-Jan Sihar Aritonang resize

19. “An overview of Denominationalism/Confessionalism on the Ecumenical Movement in Asia

Dalam Jurnal: Hong Kong Journal of Catholic Studies. , No.1, Tahun 2018, ISSN: 2219-7664, Penerbit: Centre for Catholic Studies, The Chinese University of Hong Kong, pp. 92-120.

Abstract: Most of the Church organization in Asia were initiated and founded by missionary societies that came from western world. Many of those missionary societies emerged from denominational-confessional churches (Roman Catholic, Anglican, Lutheran, Reformed, Baptist, Evangelical, Pentecostal-Charismatic, etc.) although not necessarily institutionally-based. From the time of International Missionary Conference held in Edinburgh in 1910 (followed by Jerusalem 1928, Tambaram 1938, etc.) those missionary societies tried to cooperate and to build common understanding on mission (including evangelism and church planting).

The founding of World Council of Churches (WCC) in 1948 and East Asia Christian Conference (EACC) in 1957 (in 1973 renamed Christian Conference of Asia (CCA) were also intended to build cooperation and basic concept of the task and calling of the various churches. However, there are many denominational-confessional churches in Asia do not join WCC and CCA. They would prefer to found their own communion or fellowship, like World Evangelical Fellowship (WEF) and to strengthen their confessional characteristics.

WCC as well as CCA does not intend to underestimate or neglect denominational-confessional characteristics of the churches. They even build cooperation with some confessional council like Lutheran World Federation (LWF) and World Council of Reformed Churches (WCRC), since they acknowledge the contribution of those confessional streams on the ecumenical movement.

This article will inquire the positive and negative impact of Denominationalism of Confessionalism on the Ecumenical Movement in Asia, rooted in the concept of some reformers (especially Martin Luther and John Calvin) on church unity and referring to several countries in Asia..

Keywords: Church, denominational, confessional, missionary, WCC, CCA, ecumenical, movement.

Lihat Artikel: Hongkong Journal of Catholic Studies – Jan Sihar Aritonang resize

20. “Dinamika Perkembangan Kristen (-Protestan) di Indonesia dalam Konteks Pluralitas Masyarakat Indonesia: Tantangan dan Peluang Ditinjau dari Perspektif Historis

Dalam Buku: Bertumbuh Bersama dalam Arus Zaman yang Terus Berubah. BPK Gunung Mulia, 2019., ISBN: 978-602-231-695-4, Hal. 13-38.

Abstract: Tulisan ini dibuat dalam rangka mensyukuri 70 tahun perjalanan pelayanan Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH). Walaupun tahun ini GMIH merayakan HUT-nya yang ke-70, namun kekristenan di Halmahera sudah mulai pada abad ke-16, sejak masa kehadiran misi Gereja Katolik Roma yang datang bersama Portugis dan Spanyol ke Nusantara. Pada tulisan ini sejarah GMIH tidak dibahas lebih lanjut. Akan dibahas ikhtisar atau gambaran singkat perkembangan kekristenan (khususnya Protestan) di seluruh Indonesia, termasuk perjumpaanya dengan agama dan umat Islam, sejak abad ke-17.

Sejak awal perlu kita sadari, sekarang ini di Indonesia tidaak mudah lagi bagi kita untuk untuk menggunakan istilah Protestan, karena banyak gereja, yang dulu dimasukkan pemerintah ke ‘keranjang’ Protestan, misalnya gereja-gereja Pentakostal dan Kharismatik, dan juga sebagian kalangan Injili, sekarang tidak suka lagi menyandang predikat itu, kendati secara historis mereka adalah keturunan gereja-gereja Protestan. Alasan mereka antara lain adalah bahwa istilah Protestan hanya cocok untuk ‘gereja-gereja tradisional’ yang mewarisi ajaran para reformator gereja abad ke-16, sementara mereka memandang diri sudah melangkah lebih jauh, yaitu melakukan reformasi terhadap gereja-gereja Protestan tradisional itu. Selain itu memang ada sejumlah gereja yang oleh pemerintah RI c.1. Kementerian Agama dimasukkan ‘keranjang’ Kristen Protestan, padahal mereka memang tidak merupakan bagian dari gerakan/mazhab Protestan (Gereja Ortodoks [Indonesia], Gereja Katolik Bebas, dsb.). Dalam tulisan ini mau tidak mau kalangan Pentakostal-Kharismatik dan Injili juga masih kita masukkan ke dalam kategori Protestan.

Keywords: kekristenan, pluralitas, historis.

Lihat Artikel: Bab Buku Bertumbuh Bersama dalam Arus Zaman yang Terus Berubah

21. Christian Mission and Theology of Religious in Indonesian Religious Pluralistic Society

Dalam Prosiding: Christian Mission in Religious Pluralistic Society., Tahun 2019. ISBN 978-89-97355-09-9 (93210). Penerbit: East-West Center for Mission Research & Development Seoul, Korea, pp. 123-142.

Abstract: Indonesia is a country indicated by religious plurality. Before the “world religions” came to Indonesia, the indigenous people of the county have already adhered their respective religion, later commonly called “ethnic religion.” When Christianity arrived since the beginning of the sixteenth century together with western colonialists, those western Christians did not only meet and encounter the people of ethnic religions but also the Muslim.

After Indonesian independence, the relationship among the people of different religions and faiths, in the beginning, was relatively peaceful and friendly. But the process of formulating the foundation and the constitution of the state brought rivalry and conflict, especially between Christian and Muslim. Since the 1960s there are some steps and programs of dialogue. A number of Islam and Christian leaders and theologians from Indonesia participated in some international interfaith dialogue. The plurality of religions has now been accepted as the fact of life. Christian mission cannot be conceived without acknowledging the plurality of religions. Christians must treat people of any faith and no faith with genuine respect in their act of witnessing to the gospel.

Keywords: theology, missiology, religious, pluralism.

Lihat Artikel: Prosiding – Christian Mission in Religious Pluralistic Society

Pdt. Robert Patannang Borrong, Ph.D

rpborrongBiodata Singkat:

Pengampu MK: Etika Kristen. Mata kuliah: Pancasila, Pendidikan Kewaganegaraan, Etika Kristen I dan II, Teologi Kontekstual.

Email: robert.borrong@stftjakarta.ac.id

Profil Akademis:

Google Scholar

SINTA

Untuk biodata lengkap klik di sini.

KARYA ILMIAH

1. “Diakonia dan Pastoral Sosial Calvin: Relevansinya bagi Gereja-gereja di Indonesia”

Dalam Buku: Calvinis Aktual, 2010. Jakarta: KPT GKI SW Jabar. ISBN: 978-979-16484-3-1, pp: 179-185.

Lihat Artikel Lengkap: Buku Calvinis Aktual – 2010

2. Buku: Panorama Etika Praktis

Buku: ISBN: 978-979-9103-76-5, UPI STT Jakarta, 2011

Abstraksi: Kehidupan modern diwarnai berbagai isu yang mengancam moralitas manusia: kehancuran lingkungan hidup, korupsi, dampak negatif media, globalisasi, kemiskinan dan politik semu. Buku ini mengajak pembaca memperhatikan betapa pentingnya etika (etosphere) sebagai pemandu dan pengarah kehidupan guna memulihkan hubungan manusia dengan sesamanya manusia yang penuh damai dan dengan lingkungan hidupnya yang harmonis, antara lain melalui pendidikan, termasuk pendidikan politik yang peduli pada aspek ketuhanan (theosphere) sebagai sumber utama kedamaian dan keharmonisan hidup.

Kata-kata kunci: Moralitas, Lingkungan Hidup, Bencana Alam, Korupsi, Hak Asasi Manusia, Globalisasi, Pendidikan Non Diskriminatif, Demokratisasi, Ecosphere, Etosphere, Teosphere

Lihat Artikel: Panorama Etika Praktis

3. Pendidikan Non-Diskriminatif

Dalam Jurnal: Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 3 No. 4, Juni 2011; ISSN: 2086-7433. Universitas Negeri Jakarta. pp. 89.

Abstraksi: Pendidikan diskriminatif terjadi ketika manusia menganggap pendidikan sebagai komoditas. Dalam hal itu, orang kaya lebih mudah mengakses pendidikan yang mereka sukai, semntara orang miskin tidak memiliki peluang yang sama. Pemerintah Indonesia diharapkan membuat regulasi yang menghindarkan terjadinya pendidikan diskriminatif untuk menciptakan pendidikan non-doskriminatif.

Kata-kata kunci: Pendidikan, Diskriminasi, Confucius, Kasih, Keadilan, Kebajikan, Dewey, Pendidikan, Nilai, Karakter, Budi Pekerti

Lihat Artikel: Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 3-4, No. 3-4, Jun-Des 2011

4. Dimensi Etika Dalam Pemanfaatan dan Pengembangan Teknologi

Dalam Buku: Jonathan Parapak: Pembelajar dan Pelayan di Sekitar Teknologi dan Pendidikan, 2012. Jakarta: UPH Press. ISBN: 978-979-9103-76-5, pp: 111-131.

Abstraksi: Teknologi merupakan prestasi manusia yang mempunyai tujuan luhur melayani kesejahteraan dan martabat manusia dan Tuhan sang Pencipta. Maka dalam memanfaatkan dan mengembangkan teknologi, dimensi etika sebagai alat evaluasi dan koreksi kemajuan teknologi merupakan suatu hal yang mutlak dalam setiap upaya memanfaatkan dan mengembangkan teknologi. Dimensi moral ini justru sangat perlu ketika disadari bahwa manusia kadangkala tidak mampu mengendalikan teknologi.

Kata-kata kunci: Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Etika, Otonom, Netral, Bebas Nilai, Ambivalen, Immoral, Manfaat, Dampak, Mitra

Lihat Artikel: Jonathan Parapak Pembelajar dan Pelayan di Sekitar Teknologi dan Pendidikan

5. Creation Spirituality: An Indonesian Torajan Perspective

Dalam Jurnal: Jurnal Teologi Sola Experientia Vol. 1 No. 2, Oktober 2013; ISSN: 2337-6813. Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dan PERSETIA Jakarta. pp. 150-166.

Abstraksi: Artikel ini menggunakan metode baru untuk memahami spiritualitas dari perspektif kebijaksanaan lokal, yang diambil dari perspektif kebudayaan Toraja. Artikel ini bertujuan untuk menyediakan metode belajar baru yang mengenali kontribusi kebijaksanaan lokal bagi kehidupan universal umat manusia. Pertama, kita akan mencari garis penyambung dari pemikiran mistik tentang hidup orang Toraja. Dimulai dengan mitos dan legenda, lalu diteruskan ke upacara dan ritual, kita akan melihat bagaimana hal-hal ini menyatu dengan baik dalam kehidupan orang Toraja. Spiritualitas lokal orang Toraja terletak dalam kedalamannya dalam menghadapi semua kehidupan, manusia dan spesies lainnya. Budaya Toraja menghormati bukan hanya realitas fisik dari hidup, tapi juga kehidupan spiritual yang “tidak nyata”. Sikap menghargai kehidupan ini menghasilkan hubungan yang konstruktif dan baik antara manusia dan mahluk hidup lainnya.

Kata-kata kunci: spiritualitas, spiritualitas ciptaan, mitos, legenda, upacara, ritual, toraja, budaya tradisional, dongeng, Tongkonan, Puya

Lihat Artikel: Jurnal Sola Experientia Vol. 1 No. 2 Oktober 2013

6. “Theologia Viatorum: Upaya Memaknai Teologi Kontekstual sebagai Proses Berteologi”

Dalam Buku: Ziarah Beragam Rasa, 2014. Jakarta: UPI STT Jakarta. ISBN: 978-602-71379-0-5, pp: 105-113.

Lihat Artikel: Buku Ziarah Beragam Rasa

7. Signifikansi Kode Etik Pendeta

Dalam Jurnal: Jurnal Gema Teologi Vol. 39 No. 1, April 2015; ISSN: 0853-4500. Fak. Teologi Universitas Kristen Duta Wacana. pp. 73-96.

Abstraksi: Kode etik pendeta bukanlah sebentuk aturan atau hukum yang harus ditaati pedneta melainkan sejumlah kaidah yang menjadi pedoman pendeta untuk melaksanakan tugasnya secara optimal. Kode etik itu diperlukan justru supaya pendeta dapat menjalankan tugas-tugas pelayanannya dengan baik tanpa tekanan, tetapi juga tanpa merasa bebas dari tanggung jawab. Signifikansi kode etik pendeta adalah menolong pendeta melaksanakan pengajarannya tentang Firman Tuhan seiring-sejalan dengan kehidupan pribadi, keluarga, dan tugas-tugas pelayanannya.

Kata-kata kunci: Pendeta, kode etik, pelayanan, gembala, signifikansi, moral, integritas, rohani

Lihat Artikel: Jurnal Gema Teologi Vol. 39 No. 1 April 2015

8. Makna Etika Bagi Konseling Pastoral

Dalam Buku: Seputar Pelayanan Pastoral, Panitia Emeritasi Pdt. Daniel Susanto (ed.). 2016. Jakarta: Majelis Jemaat GKI Menteng Jakarta. ISBN: 978-602-73623-1-4, pp: 59-71.

Abstraksi: Mengapa Etika penting bagi Konseling Pastoral? Karena konseling pastoral berurusan dengan manusia sebagai subyeknya. Manusia adalah makhluk ciptaan yang mulia, citra Allah sendiri (Kejadian 1:26-28). Oleh karena itu manusia menjadi moral standing (makhluk bermoral) dan yang dalam segala aspek kehidupannya harus diperlakukan sebagai makhluk bermartabat. Etika sebagai pengetahuan akan yang baik dan yang buruk bermakna bagi konseling pastoral supaya baik pendeta maupun umat dalam berelasi dan berinteraksi selalu memperhatikan kaidah-kaidah kemanusiaan seperti menghargai dan menghormati sehingga tercipta hubungan yang benar-benar manusiawi.

Dalam proses konseling pastoral, pengetahuan dan integritas moral pendeta dapat berguna menganjurkan solusi yang benar, baik dan tepat bagi jemaat yang sedang mengalami atau menghadapi pergumulan hidup. pendeta selaku pihak yang menjadi representasi gereja dalam melaksanakan konseling pastoral. Maka makna etika bagi konseling pastoral berpusat pada pendeta (pastor centered) sebab pendeta menjadi konselor oleh karena ia menerima panggilan menjadi representasi gereja dan representasi Tuhan untuk membagi kebaikan kepada umat, khususnya kepada konseli.

Kata-kata kunci: Etika, Konseling Pastoral, Pendeta, Konseli, Integritas, Moral

Lihat Artikel: RPB – Buku Seputar Pelayanan Pastoral (1) (1)

9. Pernikahan Lintas Iman dalam Konteks Masyarakat Majemuk

Dalam Jurnal: Voice of Wesley, Vol. 1 No. 1, September 2017, ISSN: 2580-7900, Penerbit: STT Wesley Methodist Indonesia

Abstraksi: Meninjau persoalan perkawinan campur beda agama yang diistilahkan perkawinan lintas iman, dalam konteks Negara majemuk , terutama dari sudut pandang etika/moral yang dikaitkan dengan sudut pandang hukum dan teologi. Dengan sengaja menggunakan istilah perkawinan lintas iman karena iman adalah sesuatu yang mencerminkan hubungan seseorang dengan Tuhan, apapun agamanya, sedangkan agama adalah institusi yang memfasilitasi iman. Orang yang mau menikah dengan orang yang berbeda agama tetapi suka mempertahankan agama masing-masing seharusnya dilandaskan pada keyakinan iman dan bukan sekedar agama.

Kata-kata Kunci: perkawinan campur, iman, HAM, masyarakat majemuk, negara

Lihat Artikel: Jurnal Voice of Wesley Vol. 1 September 2017-Resize

10. Kepemimpinan dalam Gereja sebagai Penatalayanan

Dalam Jurnal: Voice of Wesley, Vol. 2 No. 2, Mei 2019, ISSN: 2580-7900, Penerbit: STT Wesley Methodist Indonesia

Abstraksi: 

Kepemimpinan dalam gereja bukanlah pelaksanaan kekuasaan atau otoritas manusia, melainkan suatu kegiatan pelayanan. Pelayanan yang ditujukan kepada Yesus Kristus, Pemilik dan Kepala Gereja. Gereja ada karena panggilan untuk mewartakan kerajaan Allah di dunia. Oleh sebab itu kepemimpinan tidak terutama berkenaan dengan penataan organisasi gereja, tetapi berkenaan dengan penata layanan gereja kepada Tuhan dan bagi dunia. Kepemimpinan gereja tidak bertujuan membuat organisasi gereja dengan baik, tetapi menata organisasi gereja dengan baik supaya pelayanan dan kesaksian kepada dunia berjalan dengan baik.

Pemimpin dalam gereja adalah pelayan yang bekerja dengan sukacita dan sukarela karena adanya panggilan dari Tuhan bagi mereka untuk mengambil bagian dalam karya Yesus Kristus di dunia oleh dan melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib. Oleh sebab kepemimpinan adalah panggilan, maka kepemimpinan dijalankan dengan sukarela dan sukacita. Itulah hakekat kepemimpinan sebagai pelayanan gereja. Menjadi pemimpin yang melayani berarti menjadi pemimpin yang memberikan dirinya untuk mengabdi kepada Tuhan, bukan kepada manusia.

Kata-kata Kunci: pemimpin, pelayan, panggilan, organisasi, ekklesia, kesaksian, persekutuan, wibawa, motivator, fasilitator.

Lihat Artikel: Jurnal Voice of Wesley Vol. 2 No. 2 Mei 2019 – Resize

11. Pengelolaan Lingkungan Berwawasan Kemanusiaan

Dalam Buku: Jelajah Sejarah Meraup Makna. 2019. Salatiga: Satya Wacana University Press. ISBN: 978-602-5881-29-9, pp: 151-167.

Abstraksi: Pembangunan berwawasan lingkungan sudah lama dicanangkan di Indonesia, yaitu sejak tahun 1970-an, khususnya sesudah Konferensi Internasional mengenai Lingkungan Hidup di Stockholm, Swedia tahun 1972 yang membentuk badan dengan nama United nations Environmental Program (Sumarwoto, 1991:5). Kemudian dengan timbulnya berbagai masalah lingkungan maka Perserikatan Bangsa Bangsa membentuk komisi khusus untuk menelaah masalah lingkungan hidup, yaitu Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan (World Commission on Environment and Development) dalam pertemuan di Nairobi tahun 1982 yang diketuai oleh Gro Harlem Bruntland. Dalam laporan komisi tahun 1987 telah diangkat slogan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan dipahami sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang, untuk mencapai tujuan itu disyaratkan dua hal yaitu: pertama, meningkatkan potensi produksi yang ramah lingkungan hidup; kedua, menjamin terciptanya pembangunan yang merata dan adil bagi semua orang (Saleh, 2005:15). Kedua syarat ini bermakna pembangunan berwawasan lingkungan dan berwawasan kemanusiaan.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, banyak kasus dampak buruk pembangunan, khususnya pembangunan industri dan pertanian di Indonesia, yang mencemari lingkungan dan berdampak langsung pada kehidupan manusia (Aditjondro: iv-xxxii) dapat dikategorikan sebagai pembangunan tidak berwawasan lingkungan dan tidak berwawasan kemanusiaan. Sebab dampak dampak dari pembangunan itu tidak hanya merusak lingkungan hidup, tetapi manusia misalnya menderita sakit penyakit jangka pendek dan jangka panjang, bahkan bisa langsung maupun tidak langsung menyebabkan kematian.

Makalah ini melihat sisi lain dari pengelolaan lingkungan, yaitu kepentingan manusia. Pembangunan bersetujuan untuk menyejahterakan manusia tanpa kecuali. Oleh sebab itu, manusialah yang pertama-tama seharusnya mendapatkan manfaat untuk pengelolaan lingkungan. Pertanyaan yang paling mendasar dari pernyataan ini ialah kelompok manusia manakah yang mendapatkan manfaat pengelolaan lingkungan di suatu wilayah? Pertanyaan ini tidak mengarah pada konflik antarkelompok manusia. Kalau demikian, persoalan utama pada masalah pengelolaan lingkungan yang berwawasan kemanusiaan adalah keadilan dalam memperoleh manfaat atas pengelolaan lingkungan tersebut.

Kata-kata kunci: lingkungan, lingkungan hidup, kemanusiaan, pembangunan, pengelolaan

Lihat Artikel: Bab Buku Jelajah Sejarah Meraup Makna – 2019 – Resize

12. LGBT dari Perspektif Teologis-Etis Kristen

Dalam Buku: Siapakah Sesamaku? Pergumulan Teologi dengan Isu-isu Keadilan Gender. 2019. Jakarta: Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta. ISBN: 978-602-71379-9-8. pp. 67-91.

Abstraksi: 

Sejarah kekristenan memperlihatkan sikap paradoksal terhadap isu LGBT. Di satu pihak, sejak awal kekristenan bersikap negatif terhadap praktik homoseksual dan diberi ganjaran yang sangat keras. Misalnya, pada masa pemerintahan Kaisar Konstantin, pelaku homoseksual dianggap setara dengan pezinah dan “pelaku” banyak yang dikebiri. Sikap negatif ini masih terus berlangsung hingga sekarang, meskipun tidak sampai memberi hukuman. Sikap yang ditampilkan seperti penolakan dan sinisme bahkan homofobia tidak kurang merupakan hukuman yang harus dirasakan oleh kaum homoseksual. Sikap negatif ini dilandaskan pada pendekatan perilaku terhadap isu LGBT. Kaum LGBT dipandang amoral karena berperilaku menyimpang dari moral publik.

Di pihak lain, masyarakat makin terbuka, belajar, bahkan berelasi dengan kaum LGBT. Sebagian gereja dan orang Kristen di negara-negara barat menerima keberadaan LGBT dan memandangnya lebih dari segi kemanusiaan secara utuh. Pendekatan terhadap LGBT adalah pendekatan realitas kemanusiaan yang ditopang oleh berbagai temuan ilmiah tentang realitas LGBT. Dengan demikian, pendekatan terhadap LGBT lebih komprehensif. Sedangkan, tampaknya ada semacam polarisasi yang dialami oleh gereja-gereja di Indonesia dalam menghadapi isu LGBT. Ada yang pro dan ada yang kontra. Masih ada yang menyamakan pendapat bahwa LGBT ada dosa, mengecam, bahkan mengutuknya. Tetapi, ada juga yang lebih realistis dan mencoba melihat isu ini secara lebih obyektif. Sikap pro-kontra terhadap isu ini biasanya dikaitkan dengan denominasi tertentu. Tetapi, saya mengamati bahwa sikap pro-kontra tidak terutama disebabkan oleh denominasi, melainkan oleh kurangnya keseriusan gereja memperhatikan dan meneliti lebih seksama isu dan realitas LGBT. Makalah ini diharapkan memberikan kontribusi bagi gereja-gereja untuk memandang isu dan realitas LGBT secara lebih obyektif.

Kata-kata kunci: Gender, Keadilan, Kemanusiaan, LGBT

Lihat Artikel: Bab Buku – Siapakah Sesamaku – LGBT dari Perspektif Teologis Etis Kristen

13. Etika Animalitas

Dalam Jurnal: Gema Teologi, Vol. 4 No. 2, Okt 2019, ISSN: 2502-7743, Penerbit: Fak. Teologi Universitas Kristen Duta Wacana. pp. 229-250

Abstraksi: 

Why animal ethics? The importance of animal ethics for the Indonesia public is to respond to the extinction threat of some animal species in Indonesia, like Tiger in Sumatera, Orang Utan in Kalimantan, Anoa in Sulawesi, and Cendarawasih in Papua. The way human consume animals is often cruel. Causing pain and suffering on the part of the animals. Such an attitude indicates the lack of moral standing in animal sphere. Philosophically and theologically, animal has sentience and intrinsic values which with humans have to recognise as the moral standard for animal.

Using the theological-ethical concept that human being was vreated in the imaga of God, which means that they are not only endowed with senses but also the intellect to make them moral standing creature, his article points to the capacity as well as responsibility of humans to the environment, specifically to the animal world (animalities). As such, animals have to be regarded as having moral standing in the context of human beings’ moral attitude and treat. Animals have to be respected and loved morally because they have sense, sentience and intrinsic value. Animal have feelings of pleasure and suffering which with human beings must honor and make as a moral standard. Like human beings, animals have the right to enjoy contentment and to be protected as the good creatures created by God.

Although consuming animals can be considered part of natural order and natural recycle, animals have the right to enjoy liberation and prosperity during they are living, and to be avoided from suffering. In this senses, life and death must be accepted in balance. As a conclusion, in relating to animals, humans should demonstrate the virtues of respect, love, justice, and restrained attitudes. Animals ethics, thus, concern with the sustainability of the peace and welfare of the whole creation on the planet earth.

Kata-kata Kunci: Animal ethics, animal right, animal welfare, natural recycle, ethics of eating.

Lihat Artikel: Abstraksi dan Identitas Artikel Jurnal GEMA TEOLOGI Oktober 2019 – Etika Animalitas

14. “Kronik Ekoteologi: Berteologi dalam Konteks Krisis Lingkungan

Dalam Jurnal: Jurnal STULOS. Vol 17, No.2 – Juli, 2019; ISSN: 1858-4683. Penerbit: STT Bandung. pp. 187-214.

Abstraksi: Tulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan kronik berteologi ekologi yang khas ekumenis, khusus menelusuri perkembangan teologi ekologi dalam lingkup Dewan Dewan Gereja se Dunia (World Council of Chruches). Selama ini berteologi ekologi dapat disebut sebagai kejadian “by accident”, dimana kajian teologi tidak dipicu oleh kesadaran para teolog tentang pentingnya memperluas penafsiran Kitab Suci terhadap kepentingan lingkungan hidup, tetapi justru dipicu oleh kritik negatif terhadap peran Teologi Kristen, khususnya teologi Biblis Perjanjian Lama yang ditengarai mendorong eksploitasi terhadap sumber daya alam sebagai “mandat budaya”. Dan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menghimpunkan informasi berupa tulisan-tulisan dalam buku-buku yang membahasakannya dalam bentuk kronik teologi ekologi. Perkembangan teologi ekologi dalam berbagai denominasi gereja (Katolik, Protestan baik Ekumenikal maupun Evangelikal, dan Pentakostal) telah berkembang pesat. Teologi ekologis yang sampai sekarang dapat digolongkan dalam tiga pendekatakan yaitu apologetik, konstruktif dan “mendengarkan”.

Lihat Artikel Lengkap: Artikel Jurnal STULOS No. 2 Juli 2019 – Kronik Ekoteologi

Kata-kata Kunci: ekologi, ekonomi, ekumene, alam, apologetik, konstruktif, mendengar, ekofeminisme, teologi pembebasan, teologi proses, green theology